Tags

, ,

poster-guru-gak-kreatif

Saat kini kita sedang berada di era digital era dimana dunia ada dalam genggaman tangan setiap manusia, era dimana seseorang bisa mendapatkan apa saja melalui kata kunci yang diketik dalam mesin pencari google. Era digital ini memiliki dua hal yang menarik yaitu bisa berdampak positif juga berdampak negatif, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya.

Era digital juga berdampak besar dalam perkembangan dunia pendidikan, teknologi yang ada mampu membangun sebuah pembelajaran yang kreatif dan juga menyenangkan. Namun sayangnya ada banyak guru yang tidak mengambil kesempatan ini, bukan mereka tidak mau menggunakannya, bisa jadi karena mereka gaptek alias gagap teknologi atau memang mereka tidak bisa keluar dari zona nyaman. Berikut ini adalah 6 Ciri Guru Gak Kreatif di Zaman Digital, apakah anda termasuk di dalamnya.

Guru Copy Paste

Adakah diantara anda yang tidak pernah copy paste instrumen pembelajaran seperti RPP? Saya yakin sebagian besar kita adalah pelaku guru yang senang dengan copy paste. Ternyata laptop yang kita miliki belum sepenuhnya membuat kita menjadi sosok guru kreatif, yang mampu menghasilkan karya instrumen pembelajaran sendiri. Ketidak kreatifan ini adalah karena kemalasan kita untuk befikir dan mengetikan jari-jemari di atas keyboard. Atau alasan yang paling masuk akal sekaligus alasan paling klasik adalah karena “Saya sangat sibuk mengar tidak ada waktu untuk mengerjakannya”.

Ngeluh Di Media Sosial

Yuk kita cek di media sosial yang kita miliki, seperti facebook, instragram atau twitter, berapa persen status yang kita tulis mampu menginspirasi orang lain. Atau jangan-jangan status yang kiti tulis justru menggambarkan kelemahan kita pada teman-teman di media sosial. Ya, mengeluh di media sosial menujukan bahwa anda adalah guru yang lemah, guru yang tidak mampu menyelesaikan persoalannya sendiri. Mengeluh dimedia sosial sama sekali tidak akan menyelesaikan persoalan yang anda hadapi.

Ingatlah saat anda menuliskan setiap kata dalam media sosial apalagi keluhan tentang masalah-masalah kehidupan anda, maka murid-murid anda akan mengatakan “Guruku saja suka nulis status galau dan mengeluh di media sosial, masa aku gak boleh”  Selain itu mereka akan menilai  anda guru yang lemah, bagaimana mau membantu masalah murid-muridnya gurunya saja sering mengeluh.

Suka Search Download yang Gratisan

Coba deh di cek di google, banyak sekali kata kunci yang berhubungan dengan perangkat pembelajaran guru, misalnya kata kunci “download rpp gratis, dowload silabus gratis, dowload contoh soal gratis”  serta dengan puluhan kata kunci lain. Bagi para pencari dolar di internet, ini adalah peluang yang besar untuk menghasilkan pundi-pundi uang. Maka akhirnya mereka menciptakan blog ada website dengan menyediakan konten-konten tersebut, dengan tujuan mendatangkan ribuan pengunjung setiap harinya.

Hentikan mulai sekarang ! mulailah dengan jadi guru kreatif, jadilah produsen digital bukan konsumen digital. Berbagilah kebaikan dengan orang lain melalui konten positif di internet, berbagilah karya terbaik perangkat pembelajaran yang anda buat sendiri, bukalah selebar-lebarnya untuk membuka ruang diskusi agar mereka mau sama-sama belajar menjadi guru kreatif dengan karya pembelajaran sendiri.

Handphone hanya untuk Selfie

Hem… Tidak ada bedanya dong anda dengan yang orang yang tidak berstatus guru, jika handphone yang anda miliki hanya anda gunakan setiap harinya untuk selfie-selfie. Coba deh cek handphone anda berapa aplikasi yang anda miliki bisa mendukung kegiatan pembelajaran yang anda lakukan. Jangan-jangan anda punya hanphone hanya untuk gaya-gayaan dan bermain media sosial.

Harusnya hanphone seorang guru mencerminkan keguruan anda, jika anda guru sejarah misalkan, berapa aplikasi tentang sejarah yang di handphone anda. Sudah pernahkan anda meng edukasi atau mengajak belajar murid-murid anda dengan handphone. Saya meyakini hanya sebagain kecil guru yang memanfaatkan handphone sebagai alat yang mendukung pembelajaran.

Gak bisa nyalin LCD dan gak bisa buat PPT

Pembelajar dengan menggunakan layar LCD di era digital bukanlah sesuatu yang aneh lagi, terutama buat guru-guru yang mengajar diperkotaan. Tapi yakinkah anda bahwa semua guru di kota sudah bisa menggunakannya, menurut saya hanya sebagian kecil yang terbiasa menggunakannya. Bagaimana mungkin bisa mengajar dengan teknologi ini, nyalain saja tidak bisa.

LCD biasanya memiliki kaitan erat dengan Presentasi Power Point (PPT), sebuah media presentasi untuk menyajikan bahan pembelajaran yang menarik, baik berupa foto, video, gambar atau suara. Tapi yakinkah anda bahwa semua guru sudah mampu menggunakannya? Atau jangan-jangan anda adalah salah satunya yang tidak bisa membuatnya. Jika ia maka segera bertobatlah dan bangunlah dari tidur nyenyak, segera bangkit dan lawan guru gaptek. Karena memang sudah seharusnya teknologi membuat pembelajaran yang anda lakukan menjadi lebih menarik.

Penyebar Berita Hoak

Hati-hati, era digital menjadikan segalanya begitu cepat, termasuk informasi yang kita peroleh. Masih ada diantara kita sebagai guru  yang terlibat dalam barisan penyebar “berita hoak”  dengan mudanya kita menshare sebuah informasi yang tidak jelas tanpa terlebih dahulu kebenaran berita tersebut. Guru kreatif dia akan mencari kebenaran terlebih dahulu dengan membandingkan dengan berbagai informasi yang ada, sehingga informasi validitasnya bisa dipertanggung jawabkan.

Sayang sekali jika kecanggihan dan kemajuan era digital ini tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk menjadikan sebuah pembelajaran yang lebih menyenangkan dan bermakna. Keluarlah dari zona nyaman dan mulailah dengan hidup baru sebagai guru pembelajar, guru yang cerdas memanfaatkan fasilitas yang ada sebagai bagian dari usaha kita untuk mencerdaskan anak bangsa.

Mulailah upgrade diri anda, updatelah status yang mencerminkan bahwa anda adalah guru, gunakan teknologi yang anda miliki secara bijak, berbagilah kebaikan lewat dunia digital. Mulai sekarang jadilah produsen digital, berbagilah inspirasi untuk banyak orang, ketikan jari-jemari anda di atas keyboard, gunakan handphone kamera untuk merekam peristiwa penuh makna.

Advertisements