Tags

, , , ,

Poster Guru Terbaik

Sebuah catatan bagi kita sebagai orang tua dan pendidik.

Sebagai guru oleh masyarakat kita di anggap adalah orang yang tahu akan segalanya, terutama dalam persoalan pendidikan. Orang tua banyak berharap bahwa ketika anak-anaknya dimasukan ke sekolah, bisa di didik oleh orang guru yang di anggap serba bisa tersebut.

Banyak orang tua yang memasukan anak-anaknya ke pesantren dengan harapan yang awalnya anaknya bertingkah aneh (bandel), akhlaknya bisa menjadi baik. Pesantren di anggap sebagai tempat yang paling ampuh untuk menjadikan anak-anak “bragajul” menjadi anak yang santun.

Ada juga diantara kita para orang tua yang berharap anak-anaknya bisa menjadi seorang Hafiz (penghafal Al-Qur’an), maka anaknya dimasukan ke pesantren-pesantren tahfidz, karena menganggap para ustadz yang hafidz tersebut bisa menjadikan anaknya yang tidak punya hafalan bisa menjadi penghafal Al-Qur’an.

Tidak sedikit para orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya ke Sekolah Islam Terpadu (SIT), tentu para orang tua berharap besar selain anaknya pintar dalam bidang ilmu umum juga pandai dalam ilmu agamanya.

Sekolah karakterpun sama ramenya, banyak orang tua yang berbondong-bondong memasukan anaknya ke Sekolah Karakter, dengan harapan anaknya bisa menjadi manusia berkarakter, tidak korupsi, tidak pakai narkoba, tidak dugem dan lain sebagainya.

Tidak kalah ramenya, setiap tahun sekolah-sekolah negeri terutama sekolah favorit banyak orang tua yang mengantri untuk memasukan ke sekolah tersebut, Tentu hal ini dilakukan dengan harapan yang sama, agar kelak bisa masuk SMA Favorit, PTN favorit atau kelak bisa bekerja sebagai PNS?

Tentu semangat tersebut tidak ada salahnya, kita harus mengapresiasi semangat para orang tua untuk menjadikan anaknya berakhlak mulia, berkarakter, berilmu, relegius, berdisplin, santun dan punya segudang prestasi.

Lalu bagaimana pendidikan anak-anak kita di rumah?

Banyak diantara kita bersemangat untuk menyekolahkan anak-anaknya ke Sekolah Islam Terpadau dengan harapan anak perempuannya bisa menjaga auratnya seperti dengan memakai Jilbab. Namun apa yang terjadi di rumahnya? ibunya saja mengantarkan anaknya ke sekolah tak berjilbab, tanpa rasa malu menggunakan pakaian-pakaian ketat saat keluar rumah. Pake jilbab hanya saat pengajian ibu-ibu saja atau pada saat ada undangan khusus ke sekolah.

Begitupun dengan suaminya, berharap anak-anak lakinya bisa menjadi anak yang soleh seperti bisa melaksanakan sholat lima waktu. Namun apa yang terjadi banyak diantara kita sholat ke masjid saja pada saat hari libur saja, atau yang paling menyedihkan sholatnya hanya sholat tarawih, idul fitri, idul adha dan sholat jum’at saja. Sementara anaknya jauh-jauh berkilomenter diantarkan untuk mencari sekolah terbaik, sementara tempat terbaik yaitu masjid hanya kadang-kadang di kunjunginya.

Kita juga bermimpi anak-anak kita jadi penghafal Al-Qur’an, makanya anak-anak kita masukan ke pesantren tahfidz, eh, tapi apa yang terjadi? dirumah anak-anak kita rancuni dengan tonton televisi layar datar yang sangat bagus, tonton yang mengubar aurat, tayangan menghadirkan lagu-lagu, sinetron penuh hedonis. Waduh.. g’mana anak-anak kita mau nepel hafalan qur’anya. bukankah seharusnya murotal Al-Qur’an yang kita hadirkan ditengah-tengah kehidupan rumah kita.

Kita juga berlomba-lomba menjadikan anak kita berpretasi, coba kita tengok lemari kita, banyak bukunya atau hiasan keramik, bunga-bunga, foto-foto dan lain sebagainya. Mau punya anak berprestasi kok kita sibuknya belanja perhiasan rumah, belanja keramik, belanja pot bunga, belanja souvenir dan hiasan-hiasan lainnya. emang-emang hiasan-hiasan tersebut bisa buat anak kita cerdas kaya profesor.

Kita juga banyak yang bermimpi anak-anak kita jadi orang sukses, kita bangga punya rumah bagus dan mobil yang mewah. Tapi kenapa kita tidak bangga punya perpustakaan di rumah, kita tidak bangga rumah bagus kita di corat-coret anak-anak kita di rumah, kita ingin rumah terlihat selalu bersih. Bagimana anak kita mau jadi profesor?

Kita bangga membelikan anak-anak kita Handphone yang canggih, motor yang keren, makan di mall yang bagus. Tapi kok kita gak bangga anak-anak kita membeli buku-buku sejarah Islam. Coba lihat di rumah kita, sudah berapa buku sejarah Isam yang kita miliki?

Ah, rasa-rasanya saya harus segera memperbaiki diri cara pandang dalam mendidik anak……..

Advertisements