Tags

, , , , ,

Hari Kartini

Pagi itu saat saya masuk kelas tiba-tiba seorang siswi  kelas 1 bertanya kepada saya,

Pak besok di Sekolah Akhlak kita merayakan hari kartini gak?

Saya terbengong sejenak untuk menjawab pertanyaan siswa tersebut, di sekolah kita besok tidak ada hari perayaan kartini nak, besok kita seperti biasa masuk sekolah. Jawab saya. Dengan senyum manis siswi tersebut, menganggutkan kepalanya. Tanpa bertanya atau ingin tahu lebih dalam lagi atas jawaban saya.

Mungkin saat sekolah TK siswi tersebut biasa merayakannya dan satu minggu sebelum kegiatan tersebut semua guru sudah rame mempersiapkannya. Nah, saat menjelang hari kartini, di sekolah akhlak kok dia mungkin gak melihat ada persiapan apa-apa dan tidak ada pengumuman atau tanda-tanda untuk merayakannya.

Nak, Terimakasih atas pertanyaanya. Baiklah nah berikut ini bapak jelaskan kenapa di sekolah kita tidak merayakannya dan mungkin orang akan memandang sekolah kita dengan berbagai tanggapan.

Sekolah Yang Tidak Respect Gender?

Jika di sekolah kita tidak merayakan hari kartini mungkin saja ada sebagian orang ada yang bilang bahwa sekolah kita tidak respect gender  (Peduli dengan perempuan). Nak, sekolah yang respect gender tidak harus identik dengan perayaan yang berkaitan dengan perempuan seperti hari Kartini, Hari Ibu, dan perayaan hari perempuan lain.

Justru sekolah kita adalah sekolah yang sangar respect gender , coba kita lihat peraturan di sekolah kita bagaimana sekolah kita begitu memulaikan perempuan dan menghargai segala prestasi yang dimilikinya.

Di sekolah kita diajarkan dari hal yang sederhana para siswi kelas 1 sampai dengan kelas 6 wajib memakai legging (celana ketat sepanjang kaki) sebagai bagian dari menjaga kehormatan diri. Jadi memakai rok saja tidak cukup perlu ada perlindungan lain yang membuat aurat kalian akan selalu terjaga dalam berbagai aktivitas apapun.

Selain itu sekolah kita sangat peduli dengan perempuan, di sekolah kita dari mulai kelas 1 siswi-siswinya sudah diberikan pemahaman bagaimana menjaga hijab antara laki-laki dan perempuan. Nak, yang paling penting kita juga adalah sekolah yang sangat peduli terhadap kehormatan perempuan, tentu kalian sering mendengarkan, bahwa kita harus senantiasa mejaga aurat kita dengan cara memakai jilbab dimanapun kita berada terutama pada saat keluar rumah.

Sekolah Yang Tidak Mementingkan Sejarah ?

Nak, mungkin juga akan ada diantara teman-teman kalian yang bilang “Dasar sekolah yang gak tahu tentang sejarah”.

Jika ada yang berkomentar seperti itu tentu kita tidak boleh marah, sah-sah saja jika ada yang berkata demikian. Nah, tentu kamu sangat tahu bahwa sekolah kita justru adalah sekolah yang menamkan kepada murid-muridnya untuk mengenal sejarah.

Di sekolah kita bahkan ada pelajaran khusus tentang hal ini, tentu ini sudah menjadi budaya di sekolah kita, karena salah satu ke unggulan sekolah kita adalah menanamkan nilai-nilai perjuangan dan motivasi tentang bagaimana orang-orang hebat tersebut meraih sukses.

Saat ini di sekolah kita kita sedang mengkaji setiap hari sabtu tentang kehebatan sahabat Rasulullah yaitu lewat buku 60 Biografi Sahabat Nabi dan  sekolah kita juga mengajarkan akan hebatnya sejarah para perempuan. Tentu kalian pernah mendengar kisah ummul mukmini Aisyah, Khodijah, Hafsah dan perempuan hebat lainnya.

Tidak Nasionalisme ?

Nak, jangan kaget jika ada teman kamu yang berkomentar “Wah sekolah kamu mah, gak punya rasa Nasionalisme”.

Cukup tersenyum saja jika ada yang berkomentar demikian.Nak, setiap hari senin kita tetap mengadakan apel pagi, Bendera Merah Putih tetap kokoh berkibar di sekolah kita, setiap hari senin pakaian kalian putih merah dan lagu kita tetap Indonesia Raya.

Nak, pemahaman Nasionalisme, tentu tidak hanya sebatas perayaan-perayaan hari nasional saja atau merayakan hari kelahiran para pahlawan bangsa. Nak, apakah kita bisa menjamin bahwa bapak-bapak atau ibu-ibu yang hari ini berbaris dengan rapihnya merayakan hari kartini dengan penuh semangat, benar-benar mencintai negeri ini.

Buktinya banyak para penjabat kita yang katanya paling nasionalis, dengan memakai pin Bendera Merah Putih dipecinya saat merayakan hari-hari besar, begitupun dengan pin garuda yang tertancap kokoh dibaju saparinya. Toh ternyata mereka adalah orang yang paling tidak nasionalis, saat harus mengorbankan bangsanya demi menumpuk kekayaan dirinya.

Nak, percayalah bahwa nasionalisme itu tidak harus tergambar dalam perayaan-perayaan saja. Kita adalah sekolah nasionalis, coba yuk kita lihat tujuan dari pendidikan kita, bukankah membetuk pribadi berakhlak merupakan point terpenting dari tujuan pendidikan di Indonesia.

Nak, tidak mungkin ada Nasionalisme, jika masyarakat kita tidak berakhlak, tidak memiliki etika, tidak memiliki karakter dan sifat-sifat lainnya.  Apakah pejabat-pejabat negeri yang korupsi, menjual kekayaan bangsa terhadap bangsa asing, itulah mereka yang berakhlak atau paling nasionalis?

Nak, jadi tenang saja kita teta nasionalis kok!

Lalu bagaimana penghormatan kita terhadap kartini?

Cukuplah kita mengambil hikmah atau inspirasi dari sosok beliau. Tidak ada perlu perayaan yang belebihan. Kita belajar semangatnya, perjuangannya, dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Jika kalian mampu mengamalkan teladanannya maka kalian lebih hebat dari orang-orang yang merayakannya.

Apaka kartini tidak marah sama kita pak?

Tidak mungkin nak, Raden Ajeng Kartini tidak mungkin marah sama kita tidak karena kita tidak ikut merayakannya.  Karena RA Kartini pun tidak pernah berwasiat atau meminta merayakan dirinya. Maka lebih baik mendoakan beliau agar beliau diampuni segala dosa-dosannya dan mudah-mudahan kelak kita di kumpulkan disurganya Allah SWT. Amin..

Sebuah perayaan hari-hari besar terkadang menghabiskan uang yang sangat banyak, Sementara kita seolah tidak mampu untuk membeli buku biografi orang yang kita rayakan. Padahal mungkin kebaya yang kita pakai lebih mahal dari harga buku biografi tersebut. Bukankah membeli bukunya, mengamalkan nilai-nilai kebaikannya itu lebih bermanfaat dan kita lebih menghargainya.

Sekedar catatan sederhana saja, jika ada pembaca yang tidak setuju, tentu itu adalah hak setiap individu. Semoga kita bukan bangsa yang senang merayakan sesuatu tapi lupa mengamalkan nilai-nilainya. Terimakasih Raden Ajeng Kartini atas Inspirasinya, semoga Allah menempatkan di tempat terbaik.Amin…

Poster Iklan Public Speaking Motivator Pendidikan

Blog Motivator Pendidikan Indonesia No. 1

Advertisements