Tags

, , ,

Kenapa Saya Menulis Surat Untuk Presiden Jokowi

Setelah dua hari yang lalu saya menulis surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo, ternyata respon masyarakat luar biasa terutama kalangan guru. Setidaknya sampai dengan saya menulis artikel ini melihat Stats  di Dasboar blog saya ini sudah lebih 9000 orang membacanya dalam waktu 2 hari dan lebih dari 2K (2000 orang) telah men share nya melaui Twitter dan Facebook.

Yang belum baca suratnya silahkan baca disini Surat Terbuka Untuk Presiden Joko Widodo

Selain di blog saya tentu banyak juga teman-teman yang memposting ulang di blognya masing-masing (Reblog) dan juga beberapa media nasional turut juga mempublishnya seperti http://sharia.co.id/ dan www.Infosekolah.net.

Namun tetap  saja di dalam ber dakwah lewat media tidak seindah yang kita bayangkan, sama halnya dengan dunia nyata ada saja yang tidak senang dengan apa yang kita tulis dan kita ungkapkan, tentu ini adalah bagian dari sunatullah dan kita harus siap dengan semua ini.

Beberapa komentar yang menggelitik saya temukan di blog pada postingan surat terbuka untuk Presiden (mohon maaf saya tidak publish karena bahasanya tidak santun,saya jadikan spam aja) serta saya temukan juga pada tautan yang saya bagikan di grouf FB di antarnya adalah :

Saya diragukan sebagai guru SD dan saya di anggap pasukan berkuda atau sapi dan orang politik yang berhaluan dengan partai tertentu dan saya diminta untuk tidak mengurusi tentang yang berkaitan dengan pemerintahan atau masalah pemimpin di suruh fokus saja mengajar dan saya dikatkan terlihat intelek tapi berotak udang.

Untuk mengetahui saya guru atau bukan sebenarnya sangat mudah ada beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu dengan cara :

1. Melihat Profil saya di Facebook Namin AB Ibnu Solihin disini sangat jelas profil dimana saya kerja dan dari mana asal tempat kuliah saya dan yang lainnya.

2. Lihat profil saya di blog ini pada bagian kenalan yuk, begitu detail profil tentang siapa saya dan semuanya terbuka.

3. Tinggal mecari di google data tentang saya denga menulis Namin AB Ibnu Solihin maka mbah google akan mengajak anda ke lebih dari 10 Halaman tentang saya.

4. Lihat History pada Facebook saya disana sangat banyak foto-foto apa yang saya publish dan tentu juga pada foto-foto dalam blog ini.

Apakah saya pasukan berkuda  atau pasukan sapi  (maaf saya tidak paham tentang ini) apakah saya Politisi yang berafiliasi dengan partai tertentu? Jawabannya sangat gampang coba lakukanlah beberapa hal ini :

1. Silahkan anda lihat history di status Facebook saya, adakah saya menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan politik?  apakah juga pernah membicarakan atau menulis Nama Jokowi (selain dua artikel ini) , atau nama prabowo? perhatikanlah dengan seksama.

2. Silahkan ada menyimak tulisan-tulisan saya pada blog ini, lagi-lagi adakah kaitannya dengan tentang perpolitikan?

Lalau saya diminta untuk tidak memikirkan persolan pemerintahan dan para pemipin, mengajar saja yang serius.

Entah saya tida tahu siapakah yang menulis komentar ini, karena saya yakin dia bukanlah guru. Apakah anda tidak tahu bahwa tugas guru bukan hanya mengajar dan mendidik anak-anak di sekolah saja. Guru memiliki peranan yang sangat luas dalam membangun bangsa ini, tidak ada salahnya kan, kalau kita mengingatkan pemimpin kita ketika ada sesuatu yang menurut kita tidak searah dengan apa yang kita lakukan dalam mendidik dan tujuan pendidikan itu sendiri.

Tentu ada harus belajar menerima nasehat atau masukan dari orang lain. saat artikel Surat Terbuka Untuk Presiden Jokowi ini saya posting pertama kali ada teman-teman yang menyarankan agar mengganti kata “engkau” dengan “bapak” , karena terlihat lebih santun, itupun saya terima dan langsung saya ganti.

Saudaruku sadarilah jangan sebagai guru kita mebatasi diri dan dikekang untuk tidak menyampaikan sebuah kebenaran, bukankah itu yang diajarkan agama kita. Sampaikanlah kebenaran itu karena itu bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.

Sesungguhnya saya sendiri awalnya tidak mau menulis hal-hal yang seperti ini di blog saya, tapi rasanya tangan ini sudah gatal, jiwa saya bergelora dan sebagai guru sekaligus blogger serta tentu saya bangga dengan Ke-Islaman saya, maka surat itupun saya publish.

Saya seperti intelektual tapi otak udang

Disebuah grouf Facebook yang saya anggap selama ini sebagai pejuang guru dan lantang terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah sayapun membagikan tautan Surat Terbuka Untuk Presiden namun dari group pejuang guru inilah justru komentar aneh-aneh seperti yang saya ungkapan di atas saya peroleh.

Terimakasih telah mengatakan saya intelektual, semoga itu adalah doa dan Allah mengambulkannya, namun jika saya itu berotak udang, semoga Allah menjadikan saya sebagai guru berjiwa tenang, semoga Allah menjaga akhlak saya dari ucapan-ucapan yang tidak mencerminkan diri sebagai guru.

Kenapa Saya Menulis Surat Terbuka Untuk Jokowi ?

Inilah mungkin pertanyaan sebagian pembaca dari blog saya ini, berikut ini saya jelaskan kenapa akhirnya saya seolah-oleh ikutan trend dengan membuat surat terbuka untuk Presiden Jokowi.

1. Setiap diri kita punya kewajiban berdakwah : Inilah nasehat yang sering saya dapatkan dari para ustadz atau para guru ngaji saya. Berdakwah amar ma’ruf sudah sangat jelas Allah perintahkan di dalam Al-Qur’an dan sebagai rakyat terlebih sebagai guru tentu kita juga punya hak untuk mengingatkan para pemimpin kita.

2. Rasullulah pernah mengirim surat kepada para Raja : sungguh saya terinspirasi ketika membaca Sirah Nabawiyah dan Sahabiyah, Rasullulah pada masa hidupnya pernah mengirim surat pada raja-raja, tentu dari surat tersebut akhirnya ada yang beriman kepada Rasulullah ada juga yang tidak, tentu ini adalah kehendak Allah SWT. Inilah yang kemudian saya beranikan menuliskan surat terbuka, karena menurut saya inilah yang termudah, tentu jika ada kemudahan untuk bertemu presiden itu lebih baik.

3. Menyelamatkan akhlak generasi bangsa : Jika mencermati surat saya sesungguhnya penekannya lebih kepada nilai-nilai akhlak, kenapa saya berfokus kepada hal ini, karena saya melihat inilah yang menjadi bagian persoalaan umat terpenting saat ini. Coba lihat tujuan dari pendidikan kita bukankah pembentukan akhlak mulia adalah pondasi utama, namun jika setiap hari kita harus melihat teladan tidak baik dari pemipimpin kita, mau dibawa kemana generasi dan pendidikan kita.

4. Guru adalah pondasi utama dalam pembentukan akhlak mulia generasi bangsa : Jika kita mediamkan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma bangsa ini serta mebiarkan tontonan yang tidak bisa dijadikan tuntunan baik dari Televisi atau kehidupan nyata para pemimpin kita (Korupsi, Amoral, Berkata Kotor, Pertengkaran, dan lain sebagainya). maka tunggulah kehancuran generasi kita.

5. Memanfaatkan Blog dan Medsos sebagai sarana edukasi dan dakwah : Ah, sayang sekali jika setiap hari saya menulis di blog ini, tapi tidak saya manfaatkan untuk meng edukasi masyarakat teutama guru dan siswa. Selain itu tentu saya sebagai umat Islam juga harus mengambil peran ber dakwah lewat media termasuk surat saya tersebut tentang ketidak setujuan saya tentang pemblokiran situs-situs Islam.

Semoga apa yang saya tulis ini menjadi terang benerang tentang siapa diri saya dan kenapa saya menulis surat ini. Jika Allah berkhendak Insya Allah surat tersebut sampai ke tangan Pak Presiden yang terhormat dan kalaupun tidak sampai tentu Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita semua.

Advertisements