Tags

, , ,

poster Beli Buku

Tanya Pada Hatimu, Apa Buku yang terakhir di baca pada minggu ini ?

Siang itu aku duduk di kantor, kulihat siswa lalu lalu lalang menuju kantor tata usaha, satu persatu siswa membawa sebuah kantong plastik yang aku tidak tahu apa isinya. Sambil berlari dan tertawa siswa pun bergantian menuju kator Tata Usaha. Penasaran apa yang di bawa oleh siswa-siswaku, kemudian aku berdiri dan menghampiri salah satu siswa. “Nak, bapak lihat apa isi dalam plastik itu”  sapa ku pada salah satu siswa “silakan pak” jawab siswa tersebut. Setelah kulihat dalam plastik tersebut ternyata adalah Buku Paket dan LKS yang akan mereka gunakan untuk belajar  dalam satu semester ini.

Setelah melihat kantong plastik siswa yang ternyata isinya Buku Paket dan Lks, aku pun duduk kembali di meja kerjaku, kulihat di atas mejaku adakah buku yang aku beli dalam sebulan ini atau setahu ini? kemudian aku pun menatap lemari di belakang meja, adakah buku yang aku baca pada minggu-minggu ini dan kusimpan disana?

Dengan sesak aju menarik napas, Hem…. ternyata aku guru yang tidak patut di contoh, aku selalu menghibau siswa agar rajin membaca buku di perpustakaan, membeli buku paket dan lks, dan membeli buku pendukung lainnya. Kalau aku ditanya oleh siswa dengan pertanyaan seperti ini “Pak boleh tahu enggak?, apa buku yang bapak baca terakhir di minggu ini?, boleh pinjam bukunya dong pak!”. Rasanya aku malu menjawab pertanyaan tersebut. Kini baru kusadari selama bertahun-tahun aku tidak pernah membaca lagi apalagi membeli buku baru yang ku baca hanya puku Paket dan LKS Pelajaran yang aku ajar, itupun aku baca saat 5 menit sebelum mengajar.

Kini aku ingat terakhir kali aku membeli buku adalah saat membuat skripsi di semester akhir kuliah, setelah lulus kuliah dan mendapat gelar sarja pendidikan, aku tidak pernah lagi berhubungan dengan toko buku. Buku yang terakhir ku baca dalam minggu ini pun tidak ada, mungkin setahun hanya satu buku yang aku baca, itu pun bukunya akau pinjam dari teman. Kini kutanyakan lagi pada hatiku, layakah orang seperti diriku disebut guru?

Padahal aku sering jalan-jalan ke Mal bersama istri dan anak-anaku, tapi yang ku kunjugi bukan toko buku, malah tempat makan, toko baju, toko handphone dan tempat hiburan lain. Toko buku yang berjejer buku-buku bagus itu, hanya berlalu saja setiap aku melewatinya. Ah…betapa kikirnya aku, beli buku yang harganya tidak lebih mahal dari handphone yang kumiliki, satu saja dalam sebulan tidak pernah aku beli.

Siang itu aku merenung kembali, bagaimana caranya aku memantaskan diri menjadi guru sekaligus menjadi orang tua bagi anak-anaku, bukankah guru itu harusnya menjadi contoh terbaik dalam hal membaca. Bagaimana pula anak-anaku mau rajin membaca jika aku sebagai orang tua saat di rumah tak pernah terlihat membaca buku, bukan kah anak-anak itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebiasaan orang tuanya di rumah.

Hari itu aku berjani akan memperbaiki diri untuk menjadi guru yang patut di teladani, kini kumantapkan dalam hati, mulai bulan ini aku akan membeli buku minimal 1 buku dalam sebulan. Aku akan mengajak anak-anaku ke toko buku dan taman bermain saja saat pergi ke Mal. Kini aku siap menjawab pertanyaan siswa tentang buku apa yang aku baca dalam minggu terakhir ini.

Sahabat ini adalah catatan renungan diriku sebagai seorang guru, jika engkau sama seperti diriku yuk saatnya kita perbaiki diri.

Advertisements