Tags

, , , ,

motivator Pendidikan baner

Motivator Pendidikan Kreatif-Pada suatu malam yang hening saya terbawa dalam sebuah suasana muhasabah diri, malam itu saya merenungi perjalan hidup saya sebagai pendidik atau sebagai guru. Sejak usia 12 tahun saya sudah menjadi Guru TPA, saat itu gaya mengajar saya masih meniru apa yang saya llihat dari cara guru-guru saya mengajar di SD dan di TPA.

Tak ada ilmu mendidik yang saya milki, saya masih ingat jika ada anak-anak yang berisik langsung saja saya lempar pake penghapus, hanya sekedar nakut-nakuti, tentu lemparannya diarahkan keatas kepala. Saat lemparan saya terbang, anak-anak pun langsug terdiam. Apa yang saya lakukan tentu karena saya melihat cara mengajar guru saya. Jika ingat masa-masa kecil saya mengajar, saya hanya terseyum saja, kok begitu yah cara ngajar saya.

Perenungan pun terus berlanjut saat ini saya sudah menjadi orang tua bagi kedua putri saya. Saya jadi terinngat masa-masa kecil saya, dulu ketika saya sering nangis atau ngambek gak jelas dan menjerit-jerit, maka jalan pintas yang bapak saya lakukan untuk mediamkan saya adalah dengan menguyur (siram) saya pakai air atau pake air kopi. Walhasil cara itu sangat jitu dan saya pun langsung berhenti menangis, karena takut disiram kembali pake air. terus biasanya kalau gak diam juga yah dipukul pake benda-benda yang ada disekita seperti sapu. Apa yang bapak saya lakukan kini di contoh oleh kaka-kaka saya saat anaknya nangis dan ngambek gak jelas langsung saja di pukul, tentu saya miris melihat kejadian ini.

Memang menjadi orang tua butuh kesabaran yang luar biasa. Kini kesabaran itu pun harus saya nikmati, putri saya pertama Qarira Shatara Syihana biasanya juga sering nangis dan ngambek gak jelas kalalu malam hari ini, tentu tangisan membuat saya jengkel, saat minta berhenti dan dirayu sembari bertanya apa kemauannya nagisnya makin menjadi-jadi. Walhasil kesabaran saya kadang juga terpancing, ada kalanya saya berpikir menggunakan cara jitu apa yang bapak saya lakukan yaitu menyiramnya dengan air atau memukulnya. Namun akhirnya saya berpikir, ratusan buku mendidik sudah saya baca, puluhan kali berbicara pada orang tua bagaimana mendidik dengan baik, pendidikan parenting sudah saya dapatkan, masa saya mau mendidik dengan cara yang bapa saya lakukan. Akhirnya saya diamkan tangisan, dan akhirnya kecapaian juga dan tertidur pulas.

Dalam renungan malam, tiba-tiba semua pertanyaan muncul dalam benak saya “Pantaskah Saya Menjadi Guru?”

Pertanyaan itu saya coba jawab dengan melintasi waktu 10 Tahun yang lalu sejak pertama kali saya mengajar di sekolah formal, yaitu sekolah dasar. Dua minggu pertama saya mengajar rasanya batin ini tersiksa ternyata mengajar di sekolah formal tidak semudah yang saya bayangkan, stres rasanya menghadapi berbagai karakteristik murid yang berbeda. Tapi Alhamdulilah setelah satu bulan saya sudah bisa menguasai kelas, tentu dengan belajar mengatasi setiap masalah yang di hadapi.

Saya masih ingat saat kuliah sambil mengajar emosi saya belum stabil, jadi cara mengajar saya belum menggunakan hati atau bahasa lain adalah mendidik dengan cinta.Sehingga lebih banyak emosi ketimbang sabar, jadi rasanya membentak adalah solusi terbaik untuk mendiamkan siswa.

Kini setelah berjalannya waktu saya banyak belajar bagaimana mendidik yang baik, saya banyak bertemu dengan guru-guru hebat yang bisa mengajar dengan hati dan cinta. Saya melihat ke-ikhlasan mereka, bahwa mereka benar-benar mencintai profesi sebagai pendidik.

Kini saya pun terus memantaskan diri untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya terus membaca hal-hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan, dunia anak dan dunia parenting. Saya juga terus memantaskan diri dengan hadir pada acara kajian-kajian ke-Islaman, agar hati saya bisa lebut dalam mendidik.

Tentu yang bisa menilai saya pantas atau tidak menjadi guru, adalah murid-murid saya tercinta. Jika kehadiran saya di rindukan berarti saya pantas menjadi guru, namun jika kehadiran saya di gelisahkan murid, maka saya harus memantaskan dulu untuk menjadi guru yang baik.

Mendidik di masa lalu tentu berbeda dengan mendidik di masa sekarang. Untuk sahabat-sahabatku para pendidik mari kita pantaskan diri kita untuk menjadi pendidik dengan cara menjaga akhlak, memberikan teladan dan terus belajar.

Selamat bermuhasabah diri, jika anda mendapatkan manfaat dari tulisan ini jangan lupa kasih tahu saya dan follow me @guruberakhlak

Advertisements