Tags

, ,

iklan membaca-QRIRA SHATARA SYIHANA

Motivator Pendidikan Kreatif- Sahabat tentu sering jalan-jalan ke Mall disana kita sering menemukan toko buku kan? seperti Gramedia atau Kharisma. Lalu coba sahabat perhatikan apakah toko buku itu lebih ramai dengan tempat belanja pakaian? atau coba bandingkan dengan restoran cepat saji? mana yang lebih ramai diantara ketiganaya?. Jawabannya saya yakin sahabat lebih tahu.

Menurut saya orang-orang yang kalau jalan-jalan ke Mall tujuan utamanya ke Toko Buku, maka orang tersebut menjadikan liburannya yah ke toko bukunya bukan ke mallnya, itu artinya orang tersebut menilai jalan-jalan tidak harus berbelanja atau makan di restoran, kalau tujuannya beli buku ya sudah beli buku saja.

Bagi orang-orang yang suka baca buku, berjalan-jalan ke toko buku adalah hal yang sangat mengasyikan, lebih asyik dari berjalan-jalan di pantai sekalipun. saya menyebut orang-orang yang suka baca buku adalah orang yang kreatif, kenapa demikian?. bukankah orang kreatif itu tidak banyak, orang kreatif hanya lahir dari orang-orang yang memiliki nilai manfaat dari setiap aktivitas yang di lakukannya. Yang suka baca buku pun belum banyak di Indonesia, hal ini bisa dibuktikan dengan berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa lembaga internasioanal.

Pertanyaan berikutnya adalah kadang kita menngaku sebagai pendidik atau kita sebagai intelektual, masa sih? lalu bagaimana cara mengukurnya?. bukankah seorang pendidik ketika berbicara harus ada referensinya? bukankah seorang intelektual ketika menyampaikan gagasannya harus kuat argumentasinnya? lalu darimana sumbernya, kalau buku saja kita tidak punya atau beli buku saja tidak pernah.

Coba sahabat berkunjung ke rumah-rumah para Ustadz, Dai, para Profesor, saat kita memasuki rumahnya yang kita lihat langsung pemandangan lemari buku lengkap dengan buku-bukunya berbaris rapih, luar biasa bukan?. Maka wajarnya jika para ustadz ketika berbicara tentang agama mereka menguatkan dengan dalil-dalil, karena mereka punya banyak buku rujukan. Para profesor ketika berbicara dengan rapih disertai dengan argumentasi yang jelas.

Sahabat mari kita renungkan pertanyaan ini :

Berapa buku yang ada diperpustakaan rumah kita?

Berapa buku yang kita baca dalam sebulan?

berapa rupiah yang kita keluarkan untuk membeli buku dalam sebulan?

berapa banyak uang yang kita gunakan untuk jajan di badingkan dengan membeli buku?

Masihkah kita percaya diri mengaku sebagai pendidik atau intelektual jika buku saja tidak pernah kita baca, apalagi membelinya.

Advertisements