Tags

, ,

qarira shatara syihana

Pendidikan Keteladan dan Masa depan Pendidikan Indoesia

A.     Prolog

Dalam sebuah perjalanan dari Pondok Gede Bekasi menuju Cileungsi saya berbincang-bincang dengan Pak.Wijaya Kusumah (Om Jay)  tentang kurikulum 2013 dan masa depan pendidikan Indonesia. Om Jay saya tidak terlalu antusias dengan perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia, karena menurut saya perubahan kurikulum apapun tak akan membawa dampak yang signifikan untuk kemajuan bangsa ini, begitulah saya sampaikan kepada Om Jay. Menurut Om Jay, bagaimana tentang kurikulum kita?, tanya saya. Lalu dengan semangat Om Jay menjawab, Pak.Namin, yang dibutuhkan di negara kita bukanlah perubahan kurikulum yang terus berganti, yang harus dilakukan oleh pemerintah justru bagimana merubah gaya mengajar guru, dari gaya tradisional yang apa adanya menjadi mengajar yang lebih dinamis dengan berbagai model dan media pembelajaran yang lebih kreatif. Sehebat apapun kurikulum yang dibuat kalau guruya tidak mau berubah dalam mengajarnya dan meng upgrade ilmunya percuma saja. Hanya akan begitu-begitu saja setiap tahunnya.

Begituah sekilas perbincangan saya dengan Om Jay. Saya sepakat apa yang om Jay katakan. Guru-guru kita saat ini butuh pembinaan yang intensentif, guru-guru negeri ini harus dirubah mindsetnya agar guru bukan hanya sekedar transfer ilmu, guru-guru kita harus kita cerdaskan degan pemanfaatan teknologi dan guru-guru kita harus kita muliakan dengan kepribadiannnya. Untuk masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik, ujung tombaknya ada ditangan para guru, guru-guru yang cerdas akan melahirkan murid-murid yang cerdas, murid-murid yang cerdas akan mampu mengharumkan nama bangsa ini dimanata dunia. Guru cerdas dan murid yang cerdas akan menaikan peringkat pendidikan kita yang lebih baik di dunia Internasional. Untuh mewujudkan semua ini, kini yang dibutuhkan bangsa ini adalah keteladanan dari para pendidik (orang tua, guru, dan para pemimpin bangsa ini)

Berikut ini ada sebuah tulisan yang menarik tentang keteladanan yang saya kutif dari http://www.firanda.com

Seorang pendidik bertanya kepada sekumpulan anak-anak, “Apakah cita cita kalian kalau sudah besar”. Anak pertama menjawab :”Ingin jadi polisi”, kedua ;”Ingin menjadi pilot”, ketiga :”Ingin jadi sahabat Nabi”!!! Jawaban anak ketiga menunjukan penanaman agama yang tinggi orang tuanya, ibunya atau ayahnya kepada sang anak.Sekarang marilah kita tanyakan kepada anak-anak kita, kalau sudah besar mau jadi apa?? Semoga ia tdk menjawab:

– jadi spiderman….atau
– batman
– xman
– naruto…atau yang lainnya…atau
– ingin bisa makan indomi?

Ada seorang ikhwan yang selalu melarang anaknya makan indomie, akan tetapi ikhwan tersebut sering makan indomi. Maka sang anak (yang berusia sekitar 4 tahun) bertanya “Abi kok boleh makan indomi?”. Maka sang ayah menjawab :”Karena abi sudah besar, kamu kalau sudah besar juga boleh makan indomi” Sang anak karena begitu sukanya dengan indomi, suatu ketika ada sahabat ayahnya yang bertanya kepada anak tersebut, “Kamu kalau udah gede mau jadi apa?”, maka spontan sang anak tersebut menjawab,”Ingin bisa makan indomi”.

Tentu kita tidak ingin anak-anak kita tumbuh dengan cita-cita yang tapa makna, oleh sebab itu  peranan orang tua dalam memberikan Inspirasi keteladanan bagi anak-anaknya, adalah jalan terbaik untuk mencapai cita-cita yang paling bermakna. Anak-anak akan tumbuh dan bersikap sesuai dengan apa yang dia lihat dan alami dalam lingkungan keluarga dan lingkungan bergaulnya. Oleh sebab itu untuk membangun masa depan pendidikan Indonesia yang lebih bermakna, maka pendidikan terbaik harus dimulai dari lingkungan keluarga.

 B.     Pendidikan Kita butuh Keteladanan

Beberapa bulan yang lalu seorang suami istri datang kepada saya, untuk memasukan anaknya di tempat saya mengajar. Sepasang suami istri ini meminta anaknya bisa diterima ditempat saya, mereka berdua datang bertemu saya untuk meyakinkan bahwa anaknya bisa diterima ditempat saya. Karena mereka begitu khawatir anaknya yang sudah masuk usia sekolah dasar tidak bisa diterima disekolah manapun, dikarenakan keterbatasan dan kelainan yang diderita anaknya. Mereka menceritakan bahwa anaknya belum bisa bicara lancar sampai dengan usia 6 tahun ini dan membacapun masih terbata-bata.

Perbincangan terus berlanjut, lalu saya tanya, Ibu dan Bapak bekerja?, Kami berdua bekerja Pak?, oh begitu, terus saya tanya jam berpa ibu berangkat kerja dan pulang kerja. Kami berangkat kerja jam 05 Pagi dan pulang jam 10 malam. Nafas saya mulai dalam, lalu anak sama siapa di rumah? Kami titipkan tetangga pak!, jawab kedua orang tersebut dan saya lihat seolah tidak ada rasa menyesal dimukanya walau anaknya saat ini perkembangannya tidak normal.

Mengakhiri perbincangan, Ibu dan Bapak, saya akan terima anaknya disini asal ibu mau lebih perhatian terhadap anak ibu, dia butuh perhatian dan keteladan ibu. Bagamaiana bisa ibu dan bapak ingin agar anaknya tumbuh normal sementara ibu dan bapak sibuk bekerja dan anaknya di titipkan ketentangga. Ibu dan bapak sekolah bukanlah tempat ajaib yang mampu mencipatakan anak-anak menjadi cerdas begitu saja, dan ibu berharap anak ibu memilki akhlak mulia sementara anak ibu dan bapak tidak pernah melihat keseharian orang tuanya.

Begitulah kehidupan dalam mendidik anak, saya dan kita semua saya yakin sering menemukan hal yang seperti ini. Ada banyak orang tua yang memasukan anak-anaknya ke pesantren setelah anaknya terkait banyak kasus kenakalan remaja, berharap anaknya tubuh menjadi pribadi yang berakhlak. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa sesunggunya pedidikan utama anak-anaknya adalah yang paling terpenting dari lingkungan keluarga terutama kedua orang tuanya. Jika orang tuanya perhatian dalam memantau perkembangan masa depan pendidikan anaknya dan orang tua memberikan keteladan yang baik Insyallah mereka pun akan tumbuh menjadi manusia yang memiliki kepribadian mulia.

Mengutip pernyataan salah satu tokoh pendidikan Indonesia, Bapak Anies Baswedan dalam harian online http://www.republika.co.id :

Pemerhati pendidikan Anies Baswedan mengatakan saat ini pendidikan di Indonesia mengalami krisis keteladanan. Hal tersebut diungkapkannya pada Simposium Pendidikan Nasional ‘Pendidikan Berkeadilan’ Dompet Dhuafa di Aula Terapung UI.
Menurut Anies pendidikan pertama seorang anak adalah di rumah. Keluarga, kata dia, merupakan pendidik terpenting dan utama seseorang di rumah. “Yang harus memberikan keteladan utama adalah orangtua,” katanya.

Oleh sebab itu untuk membangun masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik haruslah dimulai dari keluarga terlebih dahulu. Orang tua memiliki peranan penting dalam membangun masa depan anak-anaknya. Orang tua adalah motivator utama keberhasialan masa depan dan pendidikan anak-anaknya, jika hal ini bisa diwujukan maka masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik insyallah kita wujudkan.

C.     Keperihatan keteladanan orang tua, guru dan Pemimpin

Sungguh miris melihat media saat ini, baik media cetak, online ataupun televisi, rasanya sedikit sekali keteladanan yang bisa kita nikmati dan bisa kita contoh. Hampir setiap hari kita disungguhi dengan berita-berita yang mengerikan, yang membuat akhlak bangsa ini semakin terpuruk, dan akhirnya banyak di contoh oleh generasi muda. Berita pemerkosaan, pelecehan seksual, tawuran, pembunuhan, skandal vidio mesum dan kasus korupsi, adalah berita yang disungguhkan hampir setiap hari.

1.      Buruknya Keteladan Orang Tua

DN, pria berumur berumur 64 tahun, warga Kampung Kaibi Distrik Wondiboi, Kabupaten Teluk Bintuni, dilaporkan ke polisi karena diduga telah memerkosa 2 anak kandungnya sendiri. Perbuatan DN yang dilakukan dari 2001 hingga 2014 itu menyebabkan kedua anaknya hamil dan telah memiliki anak.  Kasat Reskrim Teluk Wondama, Iptu Febrian Mabuay didampingi Kaur Bin Ops Reskrim Ipda Abd Muchlis Tanaiyo, membenarkan telah menerima laporan kasus asusila yang dilakukan seorang bapak terhadap dua putri kandungnya.  Febrian menjelaskan, dalam laporannya disebutkan, perbuatan sang ayah mengakibatkan satu putrinya telah memiliki 5 orang anak. Bahkan kini, dia sedang mengandung anak yang keenam, sedangkan satu putrinya lagi sudah memiliki 2 anak.

Febrian mengatakan, kasus asusila ini diketahui setelah adanya kecurigaan dari tante korban yang melihat gerak-gerik tak wajar kedua kemenakannya ketika melihat sang ayah. Tante korban kemudian menanyakan hal ini kepada kedua korban.  Awalnya kedua korban takut menceritakan perbuatan bejat sang ayah itu. Namun, karena sudah mulai tidak tenang dengan sang ayah yang setiap kali mau bersetubuh selalu mengancam, akhirnya kedua korban berterus terang. Dalam pemeriksaan intensif yang dilakukan penyidik Polres, kedua korban pun menceritakan hal yang sesungguhnya. Bahkan kedua korban mengakui kalau anak-anak yang saat ini bersama mereka adalah hasil perbuatan dari sang ayah kandung. (Kompas.com)

Terlalu eskstrim mungkin jika saya mencontohkan kasus bobroknya keteladan orang tua untuk berita tersebut. Namun jika kita mau lihat yang paling sederhana saja, banyak hal keteladan buruk yang sering dicontohkan oleh orang tua. Contoh sederhana, orang tua tidak mau anaknya merokok, tapi orang tuanya malah asyik setiap hari merokok dirumah dan didepan anak-anaknya, lebih parah lagi anaknya yang disuruh beli rokok kewarung. Contoh sederhana lain adalah, orang tua menyuruh anak-anaknya belajar, tapi sang orang tua malah asyik menonton TV, bukannya mendampingi anaknya untuk belajar. Begitulah kita para orang tua, sesungguhnya kita telah memberikan keteladan yang buruk.

2.      Buruknya keteladan Guru

Guntur (26) bermodal mulut manis mengajak muridnya ‘bercinta’ di dalam kelas. Dengan janji akan menikahi muridnya yang berusia 14 tahun itu, Guntur tega menyetubuhi korban sebanyak 3 kali. “Iming-imingnya hanya mau dinikahi,” kata Kanit PPA Polres Kabupaten Bekasi, Iptu Endang, dalam pesan singkat yang diterima

Endang menceritakan kelakuan bejat Guntur bermula dari seringnya ia berkomunikasi dan bertemu dengan korban di sekolah Madrasah Ibtidaiyah At-Taqwa, Ujung Harapan RT 03 RW 18, Desa Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Pelaku dan korban akhirnya berteman dekat. “Sehingga sering berkomunikasi dan melakukan pertemuan hingga persetubuhan di salah satu ruang kelas sekolah. Bukan pemerkosaan,” ujarnya. Atas tindakan Guntur, orang tua korban lantas melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Bekasi, 16 November 2011. Karena kejadian berada di Kabupaten Bekasi, kasus ini dilimpahkan ke Polres Kabupaten Bekasi. (detik.com)

Lagi-lagi terlalu serem mungkin jika saya harus mencotohkan kasus buruknya keteladan guru, tapi itulah kenyataan yang terjadi. Ada banyak diantara kita yang harusnya mejadi teladan bagi murid-muridnya malah kemudian menghacurkan masa depannya.

Rasanya memang saat ini kita telah banyak kehilangan keteladanan termasuk dari para guru. Berita terkahir tersebarnya vidio porno ketua BAZ Kab.Bogor sekaligus pengurus MUI, membuktikan bahwa kehancuran moral telah melanda semua lapisan masyarakat. Dari para Ulama, Profesor, Cendikiawan, aktivis, pengusaha dan banyak juga orang biasa.

3.      Buruknya Keteladan Para Pemimpin

Tak perlu rasanya saya mengambil contoh berita lagi, kasus korupsi yang menimpa para pemimpin bangsa ini adalah makanan yang paling memuakan bagi kita untuk kita nikmati setiap hari. Mereka yang merasa diri sebagai orang yang paling ahli ternyata lupa akan kemulian yang seharusnya dimiliknya, terlena oleh mesin kekuasan, kekayaan dan perempuan-perempuan cantik. Para penegak hukum yang kita harapkan pun sama saja, begitupun juga para profesor semuanya sama, bahkan pejuang aktivis 98 pun sama saja.

Kalau sudah seperti ini, bagaimana masa depan pendidikan Indonesia ini akan bangkit dari keterpurukan. Sehebat apapun kurikulum yang dibuat, media pembelajaran yang canggih, guru dengan lulusan terbaik, semua tak akan berati apa-apa, jika yang kita tontonkan dan sajikan adalah keteladan keburukan. Lalu masihkah ada asa, agar masa depan pendidikan Indonesia akan menjadi lebih baik. Insyallah harapan itu masih ada, asalkan pendidikan keteladan itu bisa kita perbaiki.

D.    Ujian Nasioanl keteladan terburuk pada akhir masa sekolah

Tepat 1 Januari 2014, saya menulis sebuah artikel yang berjudul “Indonesia Negeri raksasa yang sedang lumpuh”sebuah tulisan yang saya posting di kompasiana.com,  kantorberitapendidikan.net, dan guraru.org. merupakan kado awal tahun dari saya untuk negeri tercinta. Tulisan ini muncul karena keperihatinan saya sebagai pendidik , ketika negeri ini tak berdaya mengurus pendidikan, ada banyak persoalan yang tidak pernah terselesaikan, entah karena ketidak pedulian pemerintah atau memang pemerintah lebih senang untuk bermain politik saja. dalam buku yang di keluarkan oleh Makmal Pendidikan Dhompet Dhuafa, dengan” judul Besar Janji daripada Bukti” ada segudang persoalan yang sedang kita hadapi dalam dunia pendidikan, baik di kota maupun di perbatasan negeri, seperti Gedung Sekolah, SDM Guru, Kepala Sekolah, Dana Bos, Ujian Nasional dan Sisa RSBI. dari sekian banyak masalah yang ada saya berharap resolusi yang terjadi di tahun 2014, adalah dihapusnya Ujian Nasional, Kenapa? karena menurut saya ini merusak akhlak (karakter) dengan demikian maka Ujian Nasional bertentangan dengan lahirnya kurikulum berkarakter dan kurikulum 2013. berikut ini saya uraikan beberapa hal kenapa Ujian Nasional merusak akhlak dan harus di hapus:

  1. Ujian Nasional banyak di manipulasi (kebohongan), ini adalah pengamalan saya pribadi sejak saya mengikuti Ujian Sekolah Dasar (SD) Tahun 1997, pada waktu saya dan teman-teman ikut Ujian Nasional, dengan yakin-nya kami mengisi soal-soal yang ada, dan Alhamdulilah dengan waktu yang ditentukan selesai juga kami mengerjakan soalnya. Tapi betapa kagetnya saya, 5 menit sebelum bel berbunyi pengawas di ruang kami langsung memberikan jawaban dari no 1- dengan selesai, sehingga sayapun ragu apakah saya harus ikut pengawas atau tidak, nanti kalau saya tidak ikut nilai saya jelek, itulah perang batin saya. Nah, coba bayangkan tahun 1997 sudah begitu. apa sekarang masih terjadi? berikut uraianya di point 2.
  2. Ujian Nasional kekompakan dalam kesesatan, saya sangat meyakini bahwa ini banyak terjadi di banyak sekolah dan sesunggunya di kalangan kita bukan rahasia umum. selama 4 tahun saya menjadi Wakil Kepala Sekolah, di sekolah berbasis Islam, ada banyak yang menyayat hati saya Jika ingat Ujian Nasional, kepala sekolah dan teman-teman panitia UN selalu sibuk dan gelisah dalam kekompakan mengisi soal Ujian Nasional yang disiapkan untuk membetulkan jika ada ada peserta yang tidak mencapai KKM. setelah para pengawas pulang “Tim Sukses kekompakan dan  kesesatan bersama kepala sekolah” sibuk untuk mengoreksi lembar jawaban peserta didik kalau ada yang tidak mencapai KKM dibetulkan. Nah inilah kesesatan guru yang tidak meyakini akan kekuatan Allah dan kemampuan peserta didik. Selama 4 tahun itu pula saya selalu protes kepada kepala sekolah namun tidak pernah di dengar, ya akhirnya saya katakan dosa bapak, tanggung dan ingat anak-anak tidak pernah berharap untuk dibetulkan jawabanya.
  3. Ujian Nasional = Kebohongan Nasional, ada banyak pembicaraan di kalangan para pendidik bahwa “Tim sukses Ujian Nasional” adalah sesuatu yang lumroh, kenapa karena ini dilakukan secara Nasional serta sangat erta kaitannya dengan birokrasi dan jabatan kepala daerah dan kepala dinas serta pejabat terkaitnya. Kebohongan Nasional, memang sudah dibuat untuk membuat sebuah prestasi diatas kebusukan, akan hasil ujian Nasional. kalau karena gengsi, takut di pecat, malu dengan daerah lain, kemudian menghalalkan apa yang di haramkan, maka Ujian Nasional hanya sebuah simbol dari pendidikan yang tak bermakna.
  4. Ujian Nasional merusak Akhlak(Karakter) Para Pendidik, Siswa dan Orang Tua serta Pemerintah, ada ujian Nasional membuat banyak orang sibuk, terutama siswa, guru, dan orang tua. kita sering mendengar kasus, setelah Ujian Nasional ada saja siswa yang bunuh diri, karena merasa malu tidak lululs Ujian Nasional. begitupun dengan orang tua mereka malu kalau anaknya tidak lulus, sehingga begitu sibuk untuk mem-privatekan anaknya ke berbagai lembaga yang bisa menjamin lulus Ujian Nasional. begitupun dengan guru, tidak kalah sibuk dan deg-degan nya, karena kalau siswa tidak lulus sang guru dikatakan tidak bisa mengajar yang akhirnya di protes orang tua. yang tak kalah gelisah adalah Kepala Sekolah, Kepala Dinas dan Kepala Daerah, mereka berupaya bagaimana seluruh siswa di kota/kabupatennya lulus. Sehingga lahirlah “Tim Sukses” yang penuh kesesatan tadi.

Rasanya masih banyak sekali persoalan Ujian Nasional ini, Jika kita harus urai satu-satu permasalahnnya. Empat point tersebut, saya pikir sudah menjadi gambaran kenapa Ujian Nasional merusak Akhlak (Karakter). bukankah Pendidikan Karakter mengajarkan Sikap  Kejujuran dan Tanggung Jawab, serta karakter postif lainnya. Ujian Nasional dalam pandangan saya, sungguh telah bertentangan dengan pendidikan karakter itu sendiri, jika polanya tidak dirubah. Namun jika polanay masih sama seperti itu mak ini sangat merusak moral bangsa, dan akibatnya ini menjadi dosa bersama yang seola-olah bukan dosa karena dilakukan oleh orang banyak. kadang pembebaran itu hadir, untuk sebuah kebermanfaatan, padahal yang namanya sebuah jalan kebermanfaataan bersama dilakukan dengan cara salah yan tetap salah. Saya tidak ingin lagi di tahun 2014, kita sebagai pendidik, siswa, kepala sekolah dan pihak terkait, terjerumus lagi dalam perusakan akhlak(karakter) secara masal di seluruh Indonesia, jika tidak maka tungguhlah kehancuran pendidikan negeri ini. ingat satu kebohongan akan melahirkan kebohongan yang lain. Jadi, setujukah anda dengan pendapat saya bahwa Ujian Nasional Merusak Akhlak (Karakter)? jika setuju share tulisan ini, jika tidak silakan buat opini sendiri. Terimakasih semoga bermanfaat, mari bangun bangsa yang berakhlak.

Begitulah pendidikan kita, kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya kitalah yang memberikan keteladan terburuk untuk anak-anak kita, kita mengajarkan kebohongan alias ketidak jujuran, kita mengajarkan keminderan, kita megajarkan ketidak yakinan, dan keburukan keteladanan yang sistematis dalam ujian Nasional

 E.      Memulai keteladanan untuk generasi yang lebih baik

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membangun masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik?. Jalan terbaiknya adalah kita mulai dari diri kita sebagai pendidik (Orang tua, Guru dan Para Pemimpin) kita tingkatkan kapasitas dan kemampuan kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang memilki nilai kemanfaatan untuk keluarga, masyarakat dan untuk bangsa Indonesia yang tercinta.

1.      Keteladan Orang Tua

Membangun kualitas Pendidikan Indonesia untuk masa depan yang lebih baik adalah dimulai dari orang tua yang cerdas. Orang tua yang cerdas tidak harus berpendidikan tinggi atau bergelar profesor. Orang tua yang cerdas cukuplah mampu menjadi idola bagi anak-anaknya, bisa di teladani akhlaknya, bisa di contoh semangat bekerjanya dan bisa dirasakan kehadirannya. Berikut ini adalah keteladan yang perlu diberikan oleh para orang tua untuk membangun masa depan pendidikan indonesia.

Semangat dan disiplin dalam bekerja, membiasakan membaca, menghormati  istri/suami dan anak-anaknya, konsisten dalam ucapan dan perbuatan, memiliki komitmen dalam membangun masa depan pendidikan anak-anaknya, menjaga perilakunya dalam bergaul dengan sesama teman atau masyarakat, menyangi sesama, memilki kepedulian pada lingkungan dan terbuka dalam berfikir serta memiliki visi yang jelas pada dunia pendidikan.

Jika keteladan ini bisa diberikan kepada anak-anak dirumah Insyallah anak-anak akan tubuh menjadi pribadi yang mantang, karena anak-anak telah melihat secara nyata pendidikan yang sesugguhnya dalam kehidupan berkeluarga.

2.      Keteladan Guru

Guru adalah ujung tombak keberhasilan dalam membangun SDM yang unggul, oleh sebab itu sebisa mungkin guru harus mampu menujukan kualitas terbaik dalam keteladanannya. Terkadang anak-anak lebih mendengar perintah gurunya daripada orang tuanya, guru menjadi figur sentral dalam lingkungan pendidikan.

Ada istilah guru itu di gugu dan di tiru, memang begitulah seorang guru, setiap ucapan dan perbuatannya akan menjadi perhatian besar bagi murid-muridnya. Seorang guru harus memberikan keteladan dalam lingkungan sekolah diantaranya adalah sebagai berikut :

Guru memilki semangat dalam mendidik, disiplin datang dan pulang sekolah serta masuk kedalam kelas, berpakaian rapih dan bersih, menjaga ucapanya, menjaga akhlaknya, mampu memberikan motivasi bagi anak didiknya, mejadi sahabat yang baik bagi anak didiknya,  mau dikritik dan diberikan saran, terus menigkatkan prestasi dalam mengajar, serta memiliki kreativitas dalam pembelajaran.

Anak-anak yang di didik oleh guru yang memilki keteladanan yang baik, akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi terbaik, terutama dalam hal kemulaian akhlak. Para anak didik akan meniru semangat dan akhlak yang mulia sang guru dalam kehidupan sehari-hari, meningkatkan prestasi dengan penuh disiplin, karena didik oleh guru yang penuh disiplin dan memiliki prestasi juga.

 3.      Keteladan Para Pemimpin

Saya meyakini bahwa para pemimpin memiliki andil yang besar dalam membangun pendidikan Indonesia dimasa depan. Para pengambil kebijakan pada level terendah seperti kepala sekolah memilki peranan yang sangat signifikan untuk membangun pendidikan Indonesia yang lebih baik. Lalu apa yang harus dilakukan para pemimpin kita untuk masa depan pendidikan Indonesia dan keteladanan seperti apa yang perlu di contohkan.

 Keteladanan Kepala Sekolah

 

Kepala sekolah memilki peranan yang sangat strategis dalam lingkup sekolah, kepala sekolah adalah motivator bagi guru-guru inspirator. Kepala sekolah adalah Supervisor bagi guru-guru yang kreatif dan mandiri. Kepala sekolah adalah cerminan bagi berkualitas atau tidaknya sebuah institusi pendidikan. Lewat otak kreatif kepala sekolah sebuah lembaga pendidikan bisa dibuat sebagus mungkin untuk menciptakan lulusan terbaik, lulusan terbaik adalah lulsan dengan ujian kejujuran serta dengan kepribadian yang mulia.

Oleh sebab itu keteladan yang bisa ditunjukan oleh kepala sekolah kepada guru dan peserta didik banyak hal yang bisa dilakukan, berikanlah keteladan yang sederhana yang bisa dilihat oleh guru. Contohny adalah kepala sekolah memungut sampah pada saat ia berjalan melewati halaman atau lorong-lorong sekolah, kepala sekolah adalah orang yang pertama kali hadir disekolah setiap pagi, kepala sekolah adalah orang yang paling berkominten mematuhi peraturan sekolah.

Berikut ini salah satu keteladan kepala sekolah yang pernah saya muat di kompasiana.com :

Seperti biasa setiap hari senin  di sekolah kami dilaksanakan apel pagi, dimulai dari jam 07.00 s/d 07.30, pagi ini seperti biasa saya memimpin jalannya apel pagi dengan diawali membariskan siswa dibantu oleh para guru, setelah rapi kemudian kepala sekolah,guru dan karywan berbaris didepan peserta apel pagi. selanjutnya saya mengevaluasi pembiasaan siswa disekolah, diantaranya datang tepat waktu, berpakaian rapih dan bersih, sholat lima waktu,membuang sampah pada tempatnya, melepas sepatu sebelum masuk kelas (sepatu tidak boleh menginjak lantai), menyapa tamu dan pembiasaan yang lainnya. peraturan ini kami terapkan untuk guru dan siswa, jika ada guru dan siswa yang melanggar peraturan maka mereka harus dikenakan sanksi/denda sebesar Rp.10.000, denda yang diterapkan memang sangat besar dan perlu menjadi catatan kami mengelola sekolah dasar, jadi uang 10.000 ribu bagi anak SD cukup besar, apa lagi sekolah kami membatasi anak-anak tidak boleh membawa uang jajan lebih dari 5.000.

Sejauh penilaian kami, peraturan ini sangat berhasil diterapkan terbukti lantainya sekolah lebih bersih, anak-anak sholat dengan tertib, rajin melaksanakan sholat lima waktu, tidak ada sampah yang berserakan, 99% siswa datang tepat waktu dan keberhasilan yang lainnya.

Siswa tegur Kepala Sekolah

Budaya saling mengingatkan diantara sesama, kami budayakan di lingkungan sekolah guru menegur pelanggaran yang dilakukan siswa, dinatara siswa itu sendiri , bahkan siswa menegur tamu yang datang dan siswa menegur guru yang melakukan pelanggaran. pagi ini ada kejadian yang menarik pada saat saya sedang berbicara didepan para siswa,kepala sekolah tiba-tiba masuk kantor dengan cepat mungkin ada yang perlu diambil, dengan tidak sadar ia lupa membuka sepatunya dan menginjak teras depan kantor, dan dengan serontak siswa “Pak Pulan denda (maksudnya kepala sekolah)” akhirnya kepala sekolah keluar dengan tersenyum dan merasa malu telah melakukan pelanggaran yang dilakukannya, kemudian iapun dengan penuh tanggung jawab membayar dendanya sebesar uang Rp.10.000. perlu para pembaca ketahui bahwa saya juga sebagai pencetus ide awal ini, pernah ditegor oleh siswa atas pelanggaran yang saya lakukan.

Dari kejadian diatas tentunya siswa semakin yakin bahwa hukuman bagi pelaku pelanggaran ini berlaku bukan hanya untuk siswa saja bahkan sekelas kepala sekolahpun harus tetap mendapat saksi. saya meyakini bahwa budaya ini adalah hal yang positif bagi perkembangan anak didik kami. serta bisa meyakinkan mereka tentang etika bahwa hidup memiliki aturan-aturan yang harus dilaksanakan dan peraturan harus diterapakan tanpa memandang siapapun dia.

 

 

Keteladanan Dinas Pendidikan

 

Dinas pendidikan adalah sebuah departemen yang memilki banyak SDM dengan intelektual terbaik, bagaimana tidak, dinas pendidikan merupakan sumber informasi dan sumber pengembangan SDM Guru. Harusnya lembaga ini merupakan lembaga yang mampu memberikan contoh terbaik dari seluruh aspek yang ada dalam lingkungan pendidikan. Namun apa yang terjadi justru dinas pendidikan merupakan salah satu tempat terbasah untuk mendpatkan uang-uang haram dari para kepala sekolah namun menggunakan berbagai dalil kebenaran. Lalu seperti apakan dinas pendidikan yang kita harapkan untuk membangun masa depan pendidikan Indonesia.

Dinas pendidikan harus mampu menjadi lembaga yang berwibawa dimata para kepala sekolah dan guru serta masyarakat sekolah. Itu artinya peranan terpenting untuk membangun citra berwibawa itu ada pada orang-orang yang bertugas pada lembaga tersebut. Oleh sebab itu para personil dinas pendidikan harus memberikan teladan terbaik dengan cara, membuat kebijakan yang transparan, tidak melakukan pungutan liar dalam bentuk apapun, mempermudah biroraksi, menghargai prestasi guru dan siswa dengan memberikan reward terbaik. Serta yang paling penting untuk mewujudkan itu semua para pemimpin yang ada di dinas pendidikan harus memiliki integritas dan kompetensi dalam mengelola pendidikan.

 

Keteladan komponen yang terkait dalam dunia Pendidikan, Penegak Hukum, Wakil Rakyat, Ulama dan Presiden

 

Untuk membangun masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik, dibutuhkan sebuah contoh terbaik, keteladan yang bermakna dari semua piha-pihak yang terkait dalam dunia pendidikan. Karena pemimpin menjadi cerminan bagi tumbuh kembangnya generasi masa yang akan datang, sebuah bangsa yang besar hanya akan lahir dari para pemimpin yang berhati besar.

Masih ada harapan untuk menegakan keadilan dalam hukum di Indonesia, kita harus yakin masih ada para penegak hukum terbaik di Indonesai, yang perlu kita teladanani. Apa bila kita ingin melihat Polisi, Hakim, TNI, Pengacara dengan akhlak yang mulia, maka harus dimulai para pendidik penegak hukum tersebut. Kita tentu tidak ingin ada lagi ulama/kiyai yang terseret kasus korupsi atau kasus vidio mesum, oleh sebab itu seorang ulama harus menjadi panutan terbaik bagi umat. Kita berharap ada wakil rakyat yang amanah, yang mampu menyampaiakan dan merealisasikan aspirasi warga.

Indonesia juga butuh Presiden yang peduli pada kemajuan Pendidikan. Maka presiden harus menjadi teladan terbaik bagi warganya dan bagi generasi bangsa, seorang presiden harus mengutamakan kemajuan bidang pendidikan di bandingkan dengan bidang-bidang yang lainya. Presiden terbaik untuk masa depan pendidikan Indonesia adalah presiden yang bebas dari korupsi serta terjaga akhlak dan kepribadiannya.

 F.      Membangun masa depan pendidikan Indonesia

 

Mari membangun masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik, belum terlambat dan tidak ada alasan untuk putus asa. Negeri ini banyak orang-orang dengan SDM terbaik, di negeri ini masih banyak guru-guru dan pemimpin yang berkualitas, dan kita mampu medisein kurikulum terbaik sesuai budaya bangsa.

 1.      Kurikulum keteladanan

 

Perubahan kurikulum bukanlah sesuatu yang tidak peting dan tidak di butuhkan, jaman terus berubah, perkembangan teknologi semakin pesat, tentu perubahan kurikulum untuk meyesuaikan keadaan dan menjawab tantangan yang ada sangat kita butuhkan. Namun yang lebih penting dari semua perubahan kurikulum yang ada yang kita butuhkan saat ini adalah kurikulum keteladanan.

Kurikulum keteladanan adalah sebuah kurikulum yang harus bisa mewujudkan guru dengan kepribadian terbaik sehingga menghasilkan para murid yang berakhlak mulia. Kurikulum keteladanan sebenarnya sesuatu yang sederhana namun butuh komitmen untuk melaksaakannya, seperti apakah kurikulum keteladan itu. Dalam presfektif saya, sebenarnya kurikulum keteladanan itu tercermin pada budaya sekolah yang ada, jadi sekolah harus mampu membuat budaya sekolah dengan tercermin pada perilaku kepala sekolah dan gurunya. Contoh yang sederhana adalah disekolah saya tidak boleh ada sampah yang tercecer sedikit pun, siapun yang melihat sampah harus di ambil terutama jika yang melihatnya adalah kepala sekolah atau gurunya, dengan seperti itu murid akan mencontohnya. Keteladana yang lain yang sedehana dalam budaya sekolah atau bisa kita sebut kurikulum keteladanan adalah sekolah mewajibkan setiap pagi di lingkungan sekolah membaca Al-Qur’an maka pada saat yang sama semua warga sekolah, guru, kepala sekolah harus membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya bagian terpenting dalam kurikulum keteladanan adalah komintmen dan konsiten dalam melakasankan budaya sekolah yang baik.

2.      Sekolah dengan visi sederhana

 

Saya punya cara pandang yang berbeda dalam memabungan visi sekolah, saya berprinsif membangun visi sekolah mulailah dari yang sederhana dan mudah di jalankan. Contoh visi sekolah yang saya pimpin adalah saya hanya ingin anak didik saya saat di sekolah dan di lingkungan keluarga dan masyarakat memilki empat kepribadian. Yang pertama anak didik bisa sholat lima waktu, yang kedua adalah bisa membaca Al-Qur’an, yang ketiga menghormati orang tua, guru, saudara dan temannya serta yang keempat adalah saya ingin anak didik saya memiliki nilai-nilai disiplin dalam belajar.

Lalu empat visi yang sederhana itu saya sosialisasikan kepada guru dan warga sekolah, kemudian kita buat program nyata untuk mewujudkan visi tersebut. Lagi-lagi yang dibutuhkan dalam menjalankan visi tersebut mulai dengan keteladanan yang diberikan oleh kepala sekolah dan guru.

 3.      Cerdaskan Guru

Setiap bulannya saya memberikan 2 buah buku untuk dibaca oleh guru-guru saya, karena saya ingin mereka terus belajar dan tidak tertinggal oleh kemajuan jaman serta terinspirasi oleh kisah-kisah yang ada dalam buku. Selain itu saya juga aktif dalam gerakan komunitas sejuta guru ngeblog, ini adalah cara saya dan teman-teman untuk mencerdaskan guru agar masa depan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Berikut ini salah satu artikel yang saya muat di blog saya www.guruberakhlak.com, tentang cara mencerdaskan guru lewat buku :

Sahabat @guruberakhlak, buku apa yang terakhir anda baca bulan ini? berapa buku yang anda beli dalam sebulan?

Begitulah pertanyaan yang sering saya ajukan kepada peserta pelatihan jika saya mengisi materi, dari sekian banyak peserta biasanya hanya sekitar 3-5 orang yang masih ingat buku apa yang ia baca terakhir dan hanya sekitar dua orang yang terbiasa membeli buku 1 bulan 1 buku.

Hasil kajian Program for International Student Assessment (PISA) 2009 :

Indonesia Peringkat ke-57 dari 65 Negara dalam kemampuan Membaca

Berikut ini saya kutip artikel yang terdapat di websitehttp://duniaperpustakaan.com/

……………………………………………………………………………………………………………………………

Pelajar perempuan memiliki kemampuan membaca lebih baik dibandingkan dengan pelajar laki-laki. Padahal, kemampuan membaca dalam arti luas terbukti menjadi kunci penting untuk mencapai kesejahteraan sosial dan ekonomi. Meski begitu, kesenjangan dapat dijembatani dengan membantu pelajar laki-laki lebih banyak dan suka membaca.

Hasil kajian Program for International Student Assessment (PISA) 2009 memperlihatkan, di semua negara yang dinilai, skor membaca siswi perempuan lebih tinggi hingga 39 poin yang setara dengan lebih dari separuh kecakapan belajar dalam setahun. PISA adalah penilaian yang dilakukan tiap tiga tahunan oleh lembaga yang berafiliasi dengan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). Negara yang berpartisipasi adalah 34 negara OECD dan 31 negara mitra, termasuk Indonesia, atau kota (Shanghai, China), dan satu wilayah khusus (Hongkong).

Tahun 2009 PISA menilai kemampuan membaca, kemampuan matematika, dan kemampuan iptek (www.pisa.oecd.org). Laporan ini juga mengindikasikan kemampuan sumber daya manusia suatu negara dalam bersaing di dunia internasional.

Secara keseluruhan, posisi Indonesia berada pada peringkat 57 dari 65 negara. Dalam kemampuan membaca, skor Indonesia adalah 402, sementara skor tertinggi diraih Kota Shanghai, China. Rata-rata, siswa dan siswi di Shanghai menunjukkan kemampuan paling tinggi dalam kemampuan matematika dan iptek (skor 600 dan 575). Adapun untuk kedua bidang tersebut, skor Indonesia adalah 371 dan 401.

Nah, perihatin sekali bukan, bagaimana bangsa ini mau maju, jika perpustakaan sekolah hanya menjadi Gudang Buku, bukan tempat yang menarik bagi guru dan siswa untuk mencari referesnsi atau ilmu pengetahuan yang lain. kita sering mendengar istilah “Banyak bacak banya Tahu“,“Membaca Buku adalag Jendela dunia”

Berikut ini 4 Cara yang saya lakukan agar guru suka membaca buku :

1. Memberi 2 Buku setiap bulan kepada Guru

Insyallah saya menjaga Istiqomah agar setiap bulan saya harus membeli 1 Buku, saya lebih senang membeli buku yang memang kebanyakan berlaber Best Seller karena biasanya memang buku itu bagus atau juga saya membeli buku berdasarkan kebutuhan yang ada. Nah, buku-buku yang saya beli ini saya mewajibkan kepada Guru untuk membaca juga minimal 2 Buku saya pinjamkan kepada guru untuk dibaca secara bergantian, setelah membaca buku mereka wajib untuk menyampaikan isi buku yang menurut mereka paling bermanfaat dan bisa di aplikasikan dalam kehidupan nyata.

2. Membaca Info di Blog saya http://www.guruberakhlak.com atau di website sekolah.www.sekolah-akhlak.com

Saya selalu memberikan informasi terbaru apa yang saya tulis di blog saya dan website sekolah, melalui brefing pagi info itu saya sampaikan. biasanya saya menyampaikan gagasan utama tulisan saya pada saat breafing selajutnya, para guru saya persilakan untuk baca sendiri di blog yang tersedia.

3. Menyediakan Buku Perpus bukan buku Pelajaran

Maksudnya apa yah? begini sahabat @guruberakhlak, biasanya saya melihat di banyak perpustakan terutama tingkat dasar dan menengah diperpustakaan hanya di jejali dengan buku-buku teks pelajaran yang sudah mereka miliki. sehingga siswa pun malas untuk membacanya, menurut saya buku perpustakaan sekolah harusnya banyak menyediakan buku-buku diluar buku teks wajib. seperti buku cerita, Novel, Ensiklopedia, Biografi dan buku-buku umum yang lainnya yang membuat anak tertarik untuk membaca serta guru tetunya juga akhirnya ikut bersama membaca.

4. Membuat Blog dan Menulis

Untuk bisa menulis, menurut saya kita harus suka membaca, kenapa? menulis tidaklah gampang, membutuhkan literatur dan kosa kata yang banyak yang harus kita miliki. semakin banyak yang kita baca, maka tulisan kita pun akan semakin bermutu. salah satu cara termudah untuk menulis saya mewajibkan kepada guru untuk membuat blog, tentu semuanya saya bekali dulu dengan workshop, agar mereka bisa mengoptimalkan blog dengan baik. selain membuat blog, guru saya wajibkan untuk membuat PTK, karena menulis PTK adalah salah satu cara melatih untuk bisa menulis, dan untuk membuat PTK otomatis harus baca referensi dari berbagai sumber.

Sahabat @guru berakhlak

Guru Cerdas itu Suka Membaca, Mau Bisa Nulis ya Harus Baca Buku, Mau Keliling Dunia Tinggal Baca Buku

Ayo Baca Buku dan Menulis untuk mewujudkan generasi yang cerdas dan berakhlak. Semoga bermanfaat

G.     Epilog

Diakhir tulisan ini akhirnya saya bisa bernafas lega, inilah ungkapan seorang guru biasa yang ingin membangun pendidikan masa depan Indonesia yang lebih baik. Tak mudah memang untuk membangun masa depan Indonesia, tapi juga tidak mungkin kita berdiam diri. Saya punya motto dalam mendidik “ Cara terbaik mendidik adalah dengan keteladanan”, nah dengan cara yang sederhana inilah ayo kita bangun Pendidikan Masa depan Indonesia yang lebih baik.

Advertisements