Tags

,

pemenang lomba mendidik dengan akhlak
 
AKU TAK PERNAH MEMAKSA MURIDKU BERJILBAB (Pemenang Ke-1)
Oleh:Muhamamd Subakri (http://ayomendidik.Wordpress.com

Tahun 2009 gelar CPNS aku dapatkan. Bersamaan dengan itu saya memasuki sekolah baru, sekolah yang berbeda 1800 dengan sekolah sebelumnya.  4 tahun sebelumnya  berstatus GTY di sekolah yang berbasis Islam (full day school full day education). Jabatan wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan membuat saya banyak dekat dengan siswa. Karena memang sekolah Islam, saya benar-benar KENCANG memegang peraturan berjilbab.

Tak heran jika siswa lari bersembunyi jika bertemu saya tanpa berjilbab saat ada di luar sekolah. Termasuk juga guru-gurunya heeeee (rahasia ya)

 Sekali lagi berbeda dengan sekolah negeri yang Allah hadiahkan tempat tugas pertama sebagai CPNS. Tahun 2009 tidak ada satupun siswi yang berjilbab. Stimulus pertama saya mengajak istri untuk main ke sekolah. Alhamdulillah bidadariku berjilbab insyallah sesuai sunnah. Siswa-siswiku mulai bertanya-tanya. Wali murid pun mulai melirik (dikira golongannya Amroji ….. )karena sesuai sunnah hijabnya berwarna hitam. Dalam hatiku, biarlah semua mengalir ……pendidikan tidak menuai benih pada dirimu”

Tahun berikutnya saya memegang kelas 5, waktu itu sedih melihat anak-anak kelas 5 dan 6 yang sudah mulai pubertas memakai baju yang kelihatan lututnya. Saya cuman menyentuhnya diselah-selah pelajaran banyak manfaat menutup bagian tubuh yang bawah salah satunya biar bersih, jika duduk tidak repot untuk menutup, dan juga kelihatan lebih terhormat. Ya akhirnya satu, dua, tiga banyak anak yang pakai rok panjang sampai ke mata kaki.

Cobaan pun datang, salah satu siswiku protes habis-habisan. Dua point yang dia ucapkan, jika pakai bawahan panjang mereka tidak mampu karena banyak yang miskin dan yang kedua repot jika sedang olah raga. Ya aku terima dengan baik usulan anak kecil itu. Cuman saya sempat kaget anak sekecil itu mampu berbicara selantang dan sefokus itu. Akhirnya beberapa bulan kemudian aku ingin mengajak istri berkunjung ke rumah siswaku paling miskin. Dia tinggal bersama adiknya tanpa ada orang tua, karena orang tuanya kerja di negeri seberang. Siswa  laki-laki termiskin curhat masalah demo itu yang tak lain sudah di atur oleh salah satu guru yang tidak setuju jika siswi pakai bawahan panjang. Guru itu masuk saat saya ijin tidak ke sekolah.Dalam hatiku, biarlah semua mengalir ….. “tapi membuat benihmu tumbuh dan berkembang”

Akhirnya kebaikkan itu tetap berdiri kokoh, anak-anak semakin banyak yang memakai bawahan panjang. Aku cuman memuji jika ada siswa baru memakai terusan panjang, “wah tambah anggun ya”. Selang beberapa bulan kemudian  salah satu siswi bertanya “bolehkan memakai jilbab?”. Akupun tersenyum …. ”tanyakan pada guru agama saja?”.

Pertemua wali murid juga waktu yang efektif untuk berbagi missi yang sama. Berbekal ilmu hypno apa adanya, orang tua pasti menangis saat pulang pertemuan. Sengaja kami sentuh hatinya agar mereka mau mendokan anaknya.

Yap akhirnya satu, dua, tiga dan 4 tahun sekarang anak-anak hampir 100% kelas 4, 5, dan 6 sudah memakai jilbab … “Allahuakbar ….”

Tidak itu saja, siswa kami jika mengetahui temannya memakai celana pendek atau hal lain yang tidak baik saat di luar jam sekolah. Hp pasti berdering mendapat sms dari mereka untuk memberi kabar bahwa si fulan memakai celan pendek, si fulan merokok, si fulan …….

Pendidikan itu proses panjang dan  kita tidak tahu sampai kapan benih itu akan tumbuh dan berkembang ….. jika sahabat AYO MENDIDIK melihat beberapa siswi kami memakai jilbab tapi masih memakai lengan pendek atau tidak menggunakan menset. Hal  itu karena faktor money dan sebagian faktor pemahaman agama keluarga yang masih belum kaffah …. mudah-mudahan Allah memberikan hidayah agar mereka 1, 2, atau 10 tahun mendatang memakai cadar …..

amiin barokallohufiikum.

__________________________________________________________________________________________Biarkan Keteladanan yang Berbicara (Pemenang Ke-2)
Oleh: Mega Anindyawati (Guru SMP IT Darul Fikri Sidoarjo)
 

            Sosok guru yang sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar agaknya perlu mengkaji ulang kewajibannya. Tugas utama seorang guru selaku pendidik adalah mendidik. Mendidik dalam hal ini mempunyai arti membentuk karakter positif dan menggeser budaya negatif yang ada pada diri anak-anak didiknya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Darji Darmodiharjo, mantan rektor sebuah Universitas Negeri, mendidik ialah menunjukkan usaha yang lebih ditujukan kepada pengembangan budi pekerti, semangat, kecintaan, rasa kesusilaan, ketakwaan, dll (Dhurningsih, 2011). Sebagai tambahan, dalam Kompasiana (2013) disebutkan bahwa mendidik bukan hanya memenuhi isi kepala dengan berbagai pengetahuan tetapi sesungguhnya mendidik adalah membalut jiwa menjadi konsisten pada kebenaran. Dari pengertian tersebut dapat digaris bawahi bahwa mendidik merupakan pekerjaan yang dilakukan untuk memperbaiki perilaku atau akhlak seseorang.

Dalam mendidik tentunya diperlukan landasan yang kuat dan bekal yang memadai. Salah satunya adalah akhlak. Mendidik dengan akhlak dapat diartikan bahwa guru sebagai sosok pendidik tidak hanya pandai mengingatkan peserta didiknya agar berperilaku sesuai norma masyarakat maupun syariat islam. Akan tetapi lebih dari itu, seorang pendidik sejatinya memberikan teladan terhadap apa yang telah disampaikannya. Guru sebagai pendidik berperan tidak hanya dalam mentransfer ide atau gagasan positif untuk dijalankan semata. Namun seorang pendidik perlu memahami bahwa hakikat pendidikan yang sebenarnya adalah memberikan contoh atau teladan yang baik.

Sebagaimana peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, sesuatu yang dikerjakan oleh seorang guru pada akhirnya akan tertanam secara tidak langsung dalam pikiran anak didiknya. Pada gilirannya hal tersebut akan menjadi contoh tindakan untuk dilakukan. Apabila teladan tersebut positif, maka anak didiknya akan melakukan hal yang positif pula. Sebaliknya, jika yang dilakukan sang guru tak layak untuk dikerjakan, maka imbasnya adalah kerusakan tingkah laku anak didiknya akibat meniru perbuatannya. Sebab tumbal dari perilaku seorang pendidik adalah anak-anak didik sebagai generasi penerus masa depan. Mereka nantinya yang akan menanggung kerusakan peradaban akibat kesalahan seorang guru dalam mendidik.

Penjelasan diatas menerangkan bahwa dalam mengarahkan anak-anak didik agar memiliki akhlak yang baik diperlukan pola yang mendukung ke arah tersebut, yakni adanya keteladanan dari figur guru sebagai seorang pendidik. Perilaku guru yang ‘berbicara’ dengan tindakan akan lebih ampuh daripada lisan yang berbicara sebab peserta didik akan melakukan proses imitasi dari apa yang pendidik lakukan. Oleh karena itu, dalam mendidik dengan akhlak melalui keteladanan, seorang guru perlu mempersiapkan tiga hal. Bekal tersebut antara lain pengetahuan yang memadai, penerapan ilmu yang dimiliki pendidik dalam akhlak keseharian dan kemampuan menyeru anak-anak didiknya kepada kebaikan.

Dalam mendidik dengan akhlak, seorang guru memerlukan adanya bekal pengetahuan yang memadai. Dalam hal ini, seorang pendidik sejatinya bersikap terbuka terhadap ilmu-ilmu baru yang belum diketahuinya dan memiliki kemauan untuk bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih baik. Pengetahuan ini mencakup landasan ilmu dalam berakhlak yang benar menurut norma-norma yang ada dalam masyarakat maupun syariat islam. Tanpa landasan ilmu yang kuat dan bekal pemahaman yang cukup, seorang pendidik tidak akan dapat memberikan keteladan seperti yang diharapkan. Kalaupun memang dapat memberikan contoh, keteladanan yang diberikan bersifat ala kadarnya atau malah menyimpang dari norma-norma dan kaidah-kaidah yang telah digariskan. Adalah menjadi tanggung jawab semua pendidik untuk mempunyai bekal ilmu pengetahuan yang memadai dalam mendidik calon generasi masa depan. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al-Isra’ ayat 36 yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.”

Lebih lanjut, seorang pendidik diharapkan menjadi pribadi yang dapat menampilkan akhlak yang baik. Sejalan dengan hal ini, para ulama berpendapat bahwa ilmu dan pengamalan harus didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Ilmu pengetahuan yang dimiliki seorang guru seyogyanya dapat diterapkan dalam tingkah laku keseharian. Penerapan ilmu tersebut dilakukan dalam rangka pengembangan diri agar dapat menjadi figur guru yang berakhlakul karimah. Sehingga pada gilirannya seorang pendidik dapat menjadi sosok teladan bagi anak-anak didiknya. Terkait hal ini, adalah kewajiban bagi setiap umat islam untuk menyampaikan kebaikan dan mengajak kepada yang baik, terlebih bagi seorang guru. Namun, bukanlah hal yang patut untuk dilakukan apabila seorang pendidik mengatakan apa yang tidak dikerjakannya. Seperti halnya yang tercantum dalam Alquran surat Ash-Shaff ayat 2-3: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”

Kemudian dalam mendidik anak-anak didiknya, seorang guru selayaknya memiliki kemampuan untuk mengajak mereka dalam berakhlak yang baik, tentunya disertai contoh tindakan konkret. Seorang pendidik sejatinya adalah sosok yang tak kenal lelah untuk menyeru kepada kebaikan. Tak kehabisan energi untuk terus memotivasi anak-anak didiknya dalam melakukan hal-hal yang positif. Sebagaimana yang digambarkan dalam Alquran surat Fushilat ayat 33: “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah dan beramal shalih dan berkata, ‘Bahwasanya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)’.”

Singkatnya, dalam mendidik dengan akhlak seorang guru sejatinya menampilkan keteladanan yang dapat dijadikan contoh bagi anak-anak didiknya. Untuk dapat menjadi figur panutan tersebut, seorang guru seyogyanya mempersiapkan beberapa hal. Sosok pendidik sejati selayaknya memiliki bekal ilmu yang memadai dengan cara memperbarui pengetahuan dalam berakhlak yang baik. Selain itu, guru juga diharapkan mampu menerapkan ilmu yang dimilikinya dalam perilaku keseharian sehingga berimbas positif terhadap pembentukan akhlak baik bagi dirinya pribadi maupun peserta didiknya. Yang tak kalah penting, seorang pendidik layaknya mempunyai kemampuan untuk menyeru anak-anak didiknya kepada kebaikan. Apabila ketiga hal tersebut dimiliki oleh seorang guru, maka mendidik dengan akhlak bukan lagi perkara sulit.

Referensi:

Al-qur’an dan terjemahnya. (2010). Bandung: MQS Publishing.

Dhurningsih. (2011). Makna belajar, mengajar, pendidik, pendidikan dan mendidik. Dikutip 24 Januari 2014 dari http://dnurningsih.blogspot.com/2011/07/makna-belajar-mengajar-pendidik.html.

Kompasiana. (2013). Mendidik bukan memenuhi isi kepala namun memupuk jiwa.  Dikutip 24 Januari 2014 dari http://edukasi.kompasiana.com/2013/11/01/mendidik-bukan-memenuhi-isi-kepala-namun-juga-memupuk-jiwa-606790.html.

__________________________________________________________________________________________

MENDIDIK ANAK MENJADI PRIBADI YANG BAIK (Pemenang Ke-3)
Oleh :Arni (mahasiswa dan pengajar TPA)

Bismillah…..

Anak merupakan aset yang terpenting dalam sebuah keluarga. Selain aset terpenting anak merupakan generasi yang akan melanjutkan perjuangan hidup baik untuk kepentingan keluarganya sendiri ataupun untuk kepentingan agama dan negara. Apalagi terhadap anak usia dini sangat riskan sekali terhadap pengaruh dari lingkungannya, jika lingkungannya baik maka baik pula tindakannya namun bila lingkungannya buruk maka bisa buruk pula tingkah lakunya. Maka dari itu sudah sepatutnya sebagai orang tua ataupun tenaga pendidik untuk mendidik dan membimbing anak-anak didik  menjadi generasi emas yang siap untuk diterjunkan ke dalam medan perjuangan.

Banyak sekali cara para pendidik dalam mengajarkan anak didiknya, tentu saja tindakan positif yang ingin diajarkan namun ada juga yang keliru dalam mendidik anak dengan tindakan yang kurang dewasa. Berikut sedikit tips agar anak menjadi pribadi yang baik:

 1.        Berikan Teladan yang Baik

Sesungguhnnya anak didik itu hanya butuh perhatian dan juga kelemah lembutan apalagi anak yang masih usia dini sudah sepatutnya unuk diberikan uswah atau teladan yang baik. Sebuah nasehat akan mudah terekam dalam memori anak bila di ikuti sebuah tindakan berupa keteladanan itu. Seribu nasehat tidak akan mampu merubah suatu perilaku bila tanpa adanya keteladanan. Contohnya bila menasehati agar tidak merokok padahal  yang menasehati sering merokok. Hal ini kurang berefek pada yang dinasehati karena yang menasehati tidak memberi teladan yang baik. Pada dasarnya anak akan meniru perbuatan yang ia lihat. Jadi keteladanan sangat berpengaruh pada pola tindakan anak didik.

2.        Kenali Tipe Anak

Karakter anak itu berbeda-beda walaupun kembar sekalipun. Tentu karakter itu tidak jauh-jauh dari pola pendidikan dari lingkungannya terutama orang tua. Ada anak yang suka cemberut, suka marah, suka dimanja, dan lainnya. Namun kebanyakan sikap mereka seperti itu adalah bentuk cari perhatian mereka kepada orang lain. Sehingga bila anak melakukan kesalahan tidak sepatutnya untuk di marahi karena mereka sebenarnya belum tau, mana yang benar dan mana yang salah. Tentunya kita juga perlu memperhatikan mereka walaupun tidak berlebihan.

3.        Beri Waktu Kita pada Anak

Maksudnya disini, perlu juga kita memberikan waktu untuk mendidik dan memberi perhatian anak dengan cara yang anak inginkan. Misalnya saja kita berada di tengah-tengah mereka di saat bermain dan bercanda bersama. Mengajak si anak menceritakan kisahnya dan perlu juga anak di berikan apresiasi atas keberhasilannya. Sebuah hadiah ataupun makanan akan menimbulkan kesan tersendiri dalam hati si anak.

4.        Biasakan Anak untuk Berani Mencoba

Kebanyakan orang tua keliru dalam membimbing anaknya perihal mencoba sesuatu. Seperti mengatakan “awas, tidak boleh atau jangan” Hal itu wajar karena takut anaknya terjadi hal yang tidak di inginkan. Namun perlu kita pahami bahwa kita perlu juga mempunyai rasa percaya pada diri si anak. Mengusahakan anak untuk berani mencoba hal baru akan menjadikan anak lebih percaya diri dan berjiwa besar. Usahakan mendidik anak untuk memiliki keberanian untuk mencoba hal baru agar anak tidak pemalu secara berlebihan. Perlu pula anak di ikutkan dalam suatu perlombaan atau pentas seni untuk menumbuhkan bakat dan kepercayaan dirinya.

5.        Mendidik dengan Hati

Membiasakan agar mendidik anak-anak untuk berakhlak baik dan menasihatinya ketika melakukan kesalahan. Karena akhlak mulia menjadi pemberat timbangan pada hari Kiamat nanti, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi, artinya: “Tidak ada sesuatupun yang paling berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari Kiamat nanti daripada akhlak mulia.”(Hadis diriwayatkan At-Tirmidzi).

Didiklah anak dengan kelembutan bukan kemarahan dan kerkerasan. Sesungguhnya anak itu butuh kasih sayang dan kelembutan dari orang tuanya. Orang tua yang mendidik dengan kekerasaan dan kekecewaan merupakan bentuk ketidak dewasaan dari orang tuanya. Orang dewasa itu bersikap untuk sabar dalam menghadapi anak-anaknya bila si anak melakukan kesalahan. Selalu berprasangka baik pada anaknya bahwa anaknya belum tahu dan sudah sepatutnya untuk diajarkan yang baik. Berusaha  tegas namun beda dengan pemarah dan usahakan bila bersikap marah hanya untuk melindungi hak-hak Sang Penciptanya bukan karena hawa nafsu dan tentunya tidak boleh berlebihan.

6.        Konsisten Mengajak Kebaikan

Ajak anak untuk melakukan perbuatan baik seperti yang orang tua lakukan. Namun bila anak ternyata belum mampu maka jangan katakan hal yang negatif karena bisa menjadikan anak terbiasa dengan perkataan negatif tersebut. Seperti mengatakan “kamu anak nakal, kamu bandel” bila sering di dengar anak maka menjadikan sebuah label dan anak pun merasa bahwa dia anak nakal sehingga nakalnya pun makin berulah. Konsistenlah untuk berbicara dan berlaku yang baik di hadapan anak ataupun jauh dari anak. Bila anak melakukan sesuatu yang baik, usahakanlah untuk memberikan apresiasi dan penghargaan untuknya. Jangan biarkan anak bermanja-manja karena tidak akan baik untuk masa depan anak. Berikan suatu tantangan untuk memenuhi permintaan anak, contohnya kalau kamu dapat baca Al Qur’an nanti akan di hadiahkan sepeda.

7.        Doakan Anak

Terakhir adalah doa kan dia di setiap ibadah setiap orang tua atau tenaga pendidik. Berikan doa terbaik anda untuk masa depan anak dan agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Imam Ghazali menegaskan bahwa sesungguhnya anak adalah amanah yang harus dijaga dan dibekali ilmu agama untuk terwujudnya anak-anak yang shalih dan shalihah.
__________________________________________________________________________________________

Dari Lingkaran yang Melahirkan Pemimpin (Pemenang Ke-4)
Oleh:Sarah Dewiyanti

Pendidikan bukanlah sebuah aset bisnis yang menghasilkan uang. Pendidikan bukanlah alat berlatih para “buruh” untuk mencari pekerjaan. Pendidikan bukanlah monster jahat yang harus dienyahkan dari dunia ini. berbanding terbalik dari itu, pendidikan adalah sebuah proses tentang pembelajaran. Belajar memahami sesuatu yang ada disekitar kita. Apapun itu, bahkan ketika kita melihat seekor burung betina yang pulang ke sarangnya dengan makanan yang ia bawa  untuk anak-anaknya, sejatinya kita telah melakukan pembelajaran. Belajar tentang memahami kasih sayang seorang ibu. Belajar selalu erat kaitannya dengan pendidikan, begitupun sebaliknya. Namun kini, terjadi pergeseran pola pikir pada sebagian besar masyarakat di Indonesia  tentang pendidikan. Pendidikan menurut mereka adalah TK, SD, SMP, SMA, PT. Lalu hasil dari itu adalah mendapat pekerjaan. Serendah itukah makna sebuah pendidikan?

Sejak SMP saya dikenalkan dengan sebuah konsep belajar yang bernama mentoring/halaqoh/liqo yang secara bahasa halaqoh berarti lingkaran. Ya, karna memang cara pendidikan ini adalah pendidikan berkelompok dengan jumlah menti(anak yang dibina) sekitar 5-10 orang lengkap dengan seorang mentor dan nantinya formasi duduknya membentuk lingkaran. Formasi yang sangat baik, karena dengan begitu sang mentor dapat mengawasi semua mentinya, para menti dapat dengan jelas mendengar semua perkataan mentor dan suasana belajar menjadi lebih akrab dan santai namun tetap serius. Dalam hal ini, saya pernah menjadi seorang menti dan juga mentor, maka saya akan berbagi mengenai apa yang saya ketahui dan dapatkan dari halaqoh ini dalam dua sisi yang berbeda.

Dari sisi seorang menti

Belajar seperti ini menyenangkan, nyaman, dan jarang sekali membuat tertekan. Disini, mentor adalah seorang kakak, guru, sahabat, konsultan, bahkan orang tua. Beliau yang selalu memantau kami para mentinya dari mulai akademik, rohani (amal yaumiah) sampai jasmani kami. Disini saya merasa memiliki keluarga kedua, saya merasa memiliki tempat berlabuh saat pendidikan formal mulai mencekik saya dengan segala aturan yang ada. Saya selalu kagum, karena didalam lingkaran kecil ini selalu ada diskusi-diskusi besar yang pada akhirnya melahirkan mimpi-mimpi besar kami untuk diri kami sendiri, keluarga, negara bahkan dunia. Dan semua mimpi itu berlandaskan aturan-aturan Tuhan, sebuah fondasi yang sangat kuat. Mungkin itu sebabnya banyak pemimpin-pemimpin besar yang berakhlak lahir dari lingkaran ini. kenapa ini bisa terjadi?  kita dapat melihat dari apa saja yang dilakukan saat kami memulai metode pendidikan lingkaran ini. Dimulai dengan pembacaan Al-qur’an dari masing-masing kami, lalu penyampaian kisah-kisah inspiratif dari salah satu menti, dilanjutkan dengan materi inti dan sesi diskusi yang hampir selalu seru. Penyampaian materi inti biasanya tidak memakan waktu yang lama, formalnya maksimal 1 jam. Karena dalam sesi-sesi yang lain kita sudah mendapatkan banyak sekali  pembelajaran. Dalam lingkaran ini mustahil terjadi percakapan satu arah antara mentor dan menti. Kecil kemungkinan kami untuk menjadi pasif disini. Setiap anak selalu diajarkan untuk aktif dan berkontribusi sekecil apapun untuk setiap hal yang sudah kami bangun bersama dalam lingkaran ini. Bisa kita lihat dari sesi penyampain kisah insipratif misalnya, dari sini kami diajarkan dan dibiasakan untuk menjadi seorang public speaker yang baik. Bagaimana menyampaikan sebuah pesan, motivasi atau pembelajaran dari setiap apa yang kami bicarkan agar dapat didengar orang lain lalu kemudian dapat menjadi pembelajaran bagi orang-orang yang mendengarnya. Disini, kami sering diberikan sebuah studi kasus tentang permasalahan di negeri ini, lalu memikirkan solusi apa yang harus kami berikan untuk permasalahan itu dalam diskusi-diskusi ringan. Hal ini benar-benar membangkitkan semangat kami untuk membangun negeri ini lebih baik lagi kedepannya. Yang terpenting, disini kami diajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang berakhlak, karena sejatinya setiap manusia adalah seorang pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan dampak terbesar dari pendidikan ini adalah saya dan sebagian besar teman-teman saya yang tergabung dalam kelompok-kelompok pendidikan melingkar ini merasa bahwa pendidikan ini bukan lagi hanya sebuah kewajiban belaka, tapi ia adalah kebutuhan.

Dari sisi seorang mentor

Menjadi seorang mentor berarti menjadi seorang pendidik. Dan menjadi seorang pendidik berarti memiliki amanah yang cukup berat untuk dipikul. Karena apa yang kita sampaikan adalah apa yang akan diserap oleh menti-menti kita, dan hal itulah yang akan membentuk pribadi mereka kedepannya. Cukup sulit memang untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan disukai oleh setiap menti/murid kita, karena setiap diri tentu memiliki gaya belajar yang berbeda. Namun, bukan hal yang tidak mungkin untuk menciptakannya atau setidaknya bisa meminimalisir ketidaknyamanan tersebut dalam suasana belajar. Itulah mengapa seorang mentor/guru harus bisa merangkap perannya sebagai seorang sahabat, konsultan, bahkan orang tua untuk muridnya,bukan hanya menjadi seorang pengajar. Ketika pertama kali dihadapkan dengan beberapa anak yang akan menjadi menti saya kedepannya, hal pertama yang harus saya lakukan adalah pendekatan. Ya, saya harus bisa membuat mereka nyaman dan percaya kepada saya. karena menurut saya, ketika hal tersebut sudah didapat bukan tidak mungkin kita dapat mengarahkan mereka dengan mudah. Kemudian perlu diperhatikan pula pada tingkat apa murid-murid yang kita bina agar kita bisa mengarahkan mereka sesuai dengan umur atau tingkat pendidikan mereka. Misalnya ketika itu saya diminta untuk membina anak-anak kelas 1 SMP yang rata-rata baru mengetahui sistem pendidikan halaqoh ini, maka yang saya lakukan pada tahap pertama adalah mengenalkan pada mereka bahwa halaqoh itu seru, belajar lewat halaqoh itu asyik dan baik untuk diri kita kedepannya. Maka dari sini setiap mentor harus memiliki parameter sendiri terhadap kemajuan menti-mentinya yang kemudian digunakan untuk menetapkan target-target selanjutnya yang harus dicapai. Ini adalah kurikulum kami, kurikulum yang bebas namun terarah dan bertanggung jawab. Dalam hal penyampaian materi inti, diusahakan membuat jawdal yang sudah diatur sebelumnya. Biasanya ada 3 materi penting yang harus ada dalam halaqoh ini seperti materi agama, materi universal, dan games yang masing-masingnya disampaikan dalam setiap pertemuan yang berbeda. Selanjutnya diberi kebebasan pada setiap mentor untuk menambahkan materi yang ada. Dan perlu diperhatikan pula waktu yang dibutuhkan untuk menyampaikan materi inti tersebut, jangan terlalu lama juga jangan terlalu sebentar. Cukup dengan materi yang sederhana tapi luas pembahasannya, ini juga dilakukan untuk memancing mereka agar bertanya dan aktif pada sesi diskusi yang akan dilakukan setelah penyampaian materi. Jangan ragu untuk membuka sesi curhat dalams setiap pertemuan, karena biasanya hal ini lah yang membuat mereka nyaman berada disini, membuat mereka percaya bahwa masih ada orang-orang yang peduli dengan dirinya. Hal penting lainnya yang harus dimiliki seorang mentor adalah bahwa seorang mentor itu juga merupakan seorang menti. Mengapa demikian? Ini dilakukan agar ilmu yang ada pada seorang mentor terjaga dan terus bertambah sehingga kualitas setiap halaqoh pun akan semakin baik.

Banyak orang yang berpendapat bahwa kaum muda di Indonesia semakin rusak saja setiap harinya padahal sistem pendidikan yang diterapkan terus mengalami perubahan dan “perbaikan”. Mengapa hal ini terjadi? Ini terjadi karena minimnya pendidikan akhlak yang diterapkan dalam setiap kurikulum pendidikan di Indonesia. Mungkin negara akan maju dengan banyaknya ilmuwan-ilmuwan dan pengusaha-pengusaha muda dari negara tersebut, tapi jika ilmuwan dan pengusaha tersebut tidak baik akhlaknya, maka tinggal tunggu saja kehancuran negara tersebut. Untuk apa memiliki banyak ilmuwan tapi pada akhirnya banyak ilmuwan yang mati bunuh diri karena stres? Untuk apa memiliki banyak pengusaha tapi pada akhirnya mereka hanya saling menikam satu sama lain untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya? Semua itu hanya akan menjadi nol besar jika tidak dibarengi dengan akhlak. Bukankah akan lebih baik jika seorang ilmuwan, pengusaha, politisi atau apapun profesinya juga memiliki akhlak yang baik? Akan kita temukan keteraturan disana karena semua peran dijalankan dengan semestinya. Dan tentunya, akan lebih mudah membangun peradaban yang lebih baik untuk Indonesia kedepannya.          Untuk itu, menurut saya akan sangat lebih baik jika disamping pendidikan formal yang ada saat ini, banyak sekolah yang menerapkan pula konsep pendidikan halaqoh ini dalam kurikulum pendidikan mereka. Tentunya dengan memperbaiki pula kualitas setiap guru atau mentor yang ada sebelum mereka membagikan ilmunya untuk para mentinya. Karena perubahan yang baik lahir dari diri yang baik. Dan diri yang baik lahir dari proses belajar yang baik.

 _________________________________________________________________________________________

Manusia Kecil (Pemenang Ke-5)
Oleh : Ismawati

Apakah balita yang sudah bisa belajar berjalan dan berbicara akan juga bisa memahami apa yang dikatakan orang dewasa kepadanya ketika diajari kebiasaan-kebiasaan baik? Kalau itu bisa, bagaimana cara memberitahu para balita ini untuk melakukan berbagai kebiasaan baik tersebut? Kebiasaan-kebiasaan baik ini misalnya selalu menggosok gigi, mandi dan keramas rutin, menjaga kebersihan kaki dan tangan setelah bermain di luar, membersihkan tangan ketika akan dan setelah makan, makan dengan rapi, tidak memungut makanan yang sudah jatuh, membersihkan alat kelamin setelah buang air, dan lain sebagainya.

Saya sering memperhatikan keponakan, seorang perempuan cantik berusia 2,5 tahun yang sudah pintar berbicara dan sangat aktif. Dari berbagai interaksi dengannya, saya menyimpulkan bahwa memang balita memiliki kemampuan luar biasa dalam belajar dan meniru berbagai macam hal yang dia lihat maupun dia dengar. Balita adalah manusia kecil yang dapat menjadi pembelajar cepat, peniru ulung, dan pengingat super. Apapun yang dilihat atau didengarnya akan menempel kuat di otaknya, untuk kemudian ditiru. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika balita yang masih sangat aktif menyerap segala hal baru di sekitarnya ini berada dalam lingkungan orang-orang yang, misal suka berkata kasar atau menghabiskan waktu di depan televisi menonton tayangan yang tidak mendidik, lama-lama balita akan bermutasi menjadi manusia dengan watak sama seperti itu di kemudian hari.

Keponakan saya sering meneriakkan dua buah kata yang, menurut pandangan saya tidak patut untuk diucapkan manusia sekecil dia, yaitu (maaf) alat kelamin dipadukan dengan satu kata dalam bahasa jawa. Dia mengucapkannya secara spontan di depan siapa saja ketika sedang bermain, mungkin seperti orang-orang dewasa mengucapkan banyolan dalam bahasa yang vulgar. Selain itu, karena sering menonton sebuah sinetron bersama kakak-kakaknya, ada gerakan dalam sinetron tersebut yang bisa dia tiru lengkap dengan nyanyiannya.

Ibunya lalu bercerita tentang asal muasal dua kata yang sering diucapkan ponakan. Menurut Ibunya, dulu ada seorang tetangga yang berkunjung ke rumah mereka dan mengatakan dua kata tersebut, lalu sengaja memberitahu ponakan saya yang masih 2 tahun itu sambil menyuruhnya mengatakan kata-kata tersebut. Akibatnya, sampai saat ini kata-kata itu masih membekas dan dia sudah terbiasa mengucapkannya tanpa tahu apa yang diucapkannya tersebut.

Saya memikirkan bagaimana caranya memberitahu ponakan agar menghentikan kebiasaannya tersebut. Tapi ternyata tidak semudah yang saya kira. Bagaimana cara saya mengatakannya dalam bahasa yang bisa dipahami oleh anak sekecil itu? Tentu saya tidak bisa begitu saja mengatakan “berkata seperti itu tidak baik, nak”, ya saya pernah mencobanya dan sepertinya dia tidak paham. Atau mungkin karena memang sudah menjadi kebiasaan jadi diucapkan begitu saja.

Ketika bergaul cukup lama dengan ponakan tersebut, selain kebiasaan mengucapkan dua kata itu dan menari gaya sebuah sinetron, beberapa kebiasaan lainnya juga sudah bisa saya amati. Kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk sejak dia pertama kali bisa meniru berbagai kata atau sikap yang dilihat, didengar, atau diajarkan keluarga dalam satu rumah.  Salah satu yang tidak dia sukai adalah mandi dan keramas, kecuali jika dibujuk-bujuk dengan pemberian makanan, jajanan, atau akan diajak bermain ke suatu tempat. Saya pikir, bujukan-bujukan seperti ini tidak memberikan efek yang baik bagi balita dan akan menjadi sebuah kebiasaan. Bujukan-bujukan seperti ini juga berlaku ketika merayu balita agar segera tidur dan tidak rewel, misal dengan mengatakan bahwa “jika tidak tidur, akan didatangi hantu, kalong wewe, orang gila anu” dan lain sebagainya yang bersifat menakut-nakuti dengan kebohongan-kebohongan berbahaya.

Pernah ketika sedang bermain rumah-rumahan dan ceritanya kami sudah masuk jam tidur, ponakan mengatakan kepada saya bahwa saya harus segera memejamkan mata untuk tidur agar tidak ada hantu atau semacamnya (biasanya dia mengatakan nama fiktif seseorang entah siapa yang dia dengar dari Ibunya, untuk menakut-nakuti). Persis seperti yang dilakukan Ibunya ketika mereka akan tidur. Saya miris sekali mendengarnya, dan ingin mencoba meluruskan pengetahuannya itu. Saya katakan kepadanya dengan terus terang, seperti berbicara dengan orang dewasa, bahwa tidak ada hantu yang datang ataupun nama fiktif yang dia sebutkan itu. Ponakan tampak marah dan mungkin kesal karena saya tidak menurut dan mempercayai apa yang dikatakannya.

Apakah saya sudah bertindak berlebihan pada anak kecil ?

Tapi kebohongan dan cara menakut-nakuti seperti itu bisa membuat anak jadi penakut nantinya. Anak sudah diajari berbohong, hanya agar bisa tidur dengan tenang.

Lalu suatu ketika, saya mencoba bereksperimen lagi yaitu berbicara pada ponakan dengan sangat jelas seperti saya berbicara dengan orang dewasa. Waktu itu ponakan yang sedang bermain di halaman rumah mengatakan ingin buang air kecil. Dia sedang bermain dengan kakak-kakaknya. Saya sedang berada di tengah rumah. Saya pikir kakaknya akan membawa dia ke kamar mandi dan mengawasinya buang air kecil di sana. Tapi ternyata tidak ada yang mendengarkan perkataan ponakan, hanya samar-sama saya dengar kakaknya mengatakan “ya silakan”. Saya segera menghampiri ponakan untuk melihat apa yang dilakukannya, sekaligus mengajaknya ke kamar mandi. Ternyata dia sedang jongkok di halaman, buang air kecil di sana. Lagi-lagi saya merasa miris. Hal seperti itu pastilah diajarkan oleh keluarganya, untuk boleh buang air kecil di mana saja atau dibiarkan saja buang air di manapun, asal tidak di dalam rumah atau di atas tembok.  Mungkin karena dia dianggap masih kecil.

Ya. Itulah. Dianggap masih kecil sehingga banyak permakluman untuk semua sikap dan kebiasaannya. Untuk beberapa hal, memang itu diperlukan. Tapi untuk hal-hal lain yang sangat mendasar seperti buang air di atas, saya rasa balita pun perlu diajarkan seperti layaknya orang dewasa, tentu dengan diberi contoh langsung terlebih dahulu. Padahal seperti yang telah disebutkan tadi, balita tetaplah manusia, karenanya saya menyebutnya sebagai manusia kecil. Dia bisa berpikir dan berubah jika diarahkan, hanya ukurannya saja yang masih kecil.

Ponakan sama sekali tidak bereaksi saat saya mengatakan bahwa dia harus pergi ke kamar mandi saat ingin buang air kecil. Setelah buang air kecil, dia langsung berlari-lari bermain. Dia tidak berinisiatif untuk membersihkan kemaluannya setelah buang hajat. Apakah ini juga dipengaruhi pola didik di keluarganya? Saya segera menghampirinya, dan memutar otak untuk mencari cara bagaimana mengajak ponakan agar mau bersih-bersih setelah buang air kecil. Tanpa harus diiming-imingi apapun atau ditakut-takuti dengan kebohongan. Saya mencoba beberapa kali berbicara padanya dengan lembut dan bahasa yang sederhana, walau awalnya saya ragu apakah dia bisa memahami apa yang saya katakan.

Pertama-tama, dia tidak mendengarkan sama sekali. Ketika saya menghampiri dan bertanya apakah dia sudah buang air, dia mengangguk. Lalu saya katakan  bahwa sesudah buang air kecil kita harus membasuh kemaluan bekas buang air agar sehat, agar tidak ada kuman. Dia tidak mendengarkan. Dia berusaha mengalihkan perhatian dengan menunjuk beberapa benda lain, lalu berlari-lari menjauh. Saya tidak putus asa. Saya terus kejar dia (saya bersumpah waktu itu untuk bisa berhasil mengajaknya ke kamar mandi dan bersih-bersih). Dia terus saja cuek. Terhitung 5 kali saya terus mengatakan hal yang sama, bahwa dia harus membersihkan bekas buang airnya, agar tidak terkena penyakit dan agar bersih, agar nyaman, dan sebagainya. Saya tidak tahu lagi harus mengatakan apa agar tidak terjebak dalam kebohongan. Saya mengatakannya dengan selembut mungkin, sambil fokus pada dirinya sepenuhnya. Saya pegang tangannya, dan menariknya pelan untuk berjalan ke kamar mandi.

Dan, ajaibnya, dia bersedia! Tiba-tiba saja dia menatap saya tanpa berkata apa-apa. Tidak senyum, tidak juga marah. Saya tidak tahu apa artinya itu. Tapi dia menuruti apa yang saya minta tanpa pemberontakan sama sekali. Dengan penuh semangat, dia berjalan di samping saya menuju kamar mandi, sambil berpegangan tangan. Dan misi itupun berhasil. Sepanjang perjalanan ke kamar mandi, dan membantunya membersihkan daerah genitalnya, saya terus mengatakan kepadanya tentang keharusan menjaga kebersihan tubuh dan buang air kecil di tempat yang tepat, yaitu kamar mandi. Dia hanya menatap saya tanpa berkedip tanpa mengatakan apa-apa. Entah mengerti, atau bagaimana. Mission accomplished!

Saya berharap, dia sedikit mengerti dengan contoh-contoh yang sudah saya perlihatkan itu, dan bisa mengulanginya terus nanti. Dan dari kejadian itulah saya semakin meyakini bahwa pada dasarnya balita adalah manusia seperti pada umumnya. Manusia yang kecil bentuk fisiknya. Ketika kita mengajaknya berkomunikasi, dengan penuh perhatian, terus menerus serta dikombinasikan praktek langsung, sepertinya dia pun akan memahami apa yang kita maksudkan. Karenanya, tidak perlu lagi iming-iming materi, ditakuti atau dibohongi hanya agar balita menuruti apa yang kita inginkan, atau agar mereka bisa bersikap seperti apa yang kita harapkan. Tidak pula perlu membentak atau mengomeli mereka karena susah untuk menuruti apa yang kita maksudkan, karena otak mereka sedang dalam proses belajar dan menyerap, jadi pasti butuh kerja keras dan usaha ekstra saat menyampaikan maksud kita.

Mereka perlu diajarkan dengan cara yang tidak menyakiti mereka secara fisik maupun intelektual.

Advertisements