Tags

, , ,

gajah
Sumber Gambar :dunia.news.viva.co.id

Gajah mati meninggalkan Gading, Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meinggalkan nama. demikian sebuah pepatah mengatakan. lalu kalau Blogger mati meninggalkan apa?
Tulisan ini sesungguhnya terinspirasi atas komentar saya pada tulisan Bapak. M.Yusun Amin Nugroho, pada sebuah tulisan tentang “Menulis karya Fiksi”. lihat tulisan lengkapnya di sini. kemudian saya beri komentar seperti ini:
Memang Kita ini jangan Jadi orang NATO, menulis adalan salah satu jalan terbaik untuk menghasilkan sebuah karya. lihat saja para Tokoh Muslim, setelah mereka meninggal karya-karya tulisan atau kitab nya masih di pakai runjukan sampai dengan sekarang, maka moto kita sebagai Blogger adalah “Blogger Mati meninggalkan Tulisan”
Ada banyak di antara kita yang sering berbicara tentang bisnis tapi dia sendiri belum pernah berbisnis, maka kita lebih senang mendengar seminar dari seorang pembisnis langsung dari pada dari seorang Profesor.Ekonomi, yang lebih banyak teori. kita lebih senang mendengar seminar tentang menulis dari seorang penulis dan sudah menghasilkan karya-karya besar dari pada dari serorang Dosen sastra yang tanpa karya. begitupun dalam Akhlak, anak-anak akan lebih senang mencontoh akhlak kita yang sesugguhnya dari pada ucapa kita, karena terkadang ucapan tidak sama dengan perbuatan.
Jangalah kita sebagai seorang pendidik dan seorang Blogger menjadi orang NATO (Not Action Talk Only), tapi menulislah dan buktikan kita bisa. om Jay sering mengatakan “menulislah setiap hari lalu lihatlah apa yang terjadi”. Coba kita lihat para Ulama Muslim terkemuka, betapa hebatnya mereka bisa melahirkan karya-karya besar seperti ulama Indonesia Buya Hamka melahirkan Tafsir Al-Azhar ketika di dalam Penjara, begitupun dengan sayyid Quthb.
Maka pertanyaan buat kita sebagai seorang Blogger adalah Blogger mati meninggalkan apa?. inilah pertanyaan yang harus kita jawab, apakah kita bertahun-tahun memposting sebuah tulisan, duduk di depan laptop, menghabiskan waktu untuk berkomentar di blog, tanpa memberikan efek apa-apa untuk generasi yang akan datang. Para ulama membuat Kitab tentu mereka sudah berpikir panjang bahwa Ilmunya harus tetap bisa di nikmati oleh umat manusia ketika dia sudah meninggal. maka sebagai seorang blogger kitapun begitu, bukan untuk mencari siapa blognya yang paling bagus, blogger terhebat di dunia, dapat uang banyak dari blog. tapi lebih dari itu apakah blog kita sudah bisa membawa perubahan hidup yang positif bagi generasi masa kini dan generasi yang akan datang?
Semoga tulisan kita sebagai seorang Guru  sekaligus sebagai Blogger bisa memberikan Inspirasi bagi banyak orang, khususnya bagi generasi masa kini dan masa yang akan datang. buatlah sebuah tulisan yang mampu mengubah pola pikir dan perilaku generasi kita menjadi lebih baik, tulisan-tulisan yang membuat anak-anak kita menjadi cerdas bukan malah menjadi bebek.
Jadi Blooger mati meninggalkan apa? he..he..
Namin AB Ibnu Solihin|23 Sapar 1435 H
Advertisements